Isi Surat Perjanjian Rasulullah Dengan Kaum Najran - Soffah.Net

0
Sebelum kita membahas jauh tentang sejarah, lebih baik kami tekan dulu pada anda, apabila anda membahas sejarah cantumkan juga refernsi yang anda gunakan biar anda tidak kami sebut sebagai penghianat sejarah! Lagi-pula sejauh manasih anda tau sejarah? Catatan ini kami buat husus Untuk anda yahudi maupun nasrani yang sangat tampak sekali bahwa anda tidak mengetahui sejarah. Dan Imbauan kami pelajari dulu sebelum anda membahas tentang sejarah!

Topik yang akan kita bahas disini adalah Isi Surat Perjanjian Rasulullah SAW dengan kaum Najran. Yang di anggap tidak otentik dan cacat kata mereka (Nasrani) dan (yahudi). Berikut kami kutip isi surat perjanjian yang di kutip oleh mereka (nasrani), yang dijadikan sengketa olehnya, Nasrani kecil ini telah mempertanyakan surat perjanjian dengan gaya seolah akan mengupas tuntas, seperti ini gaya-nya yang menggelikan itu :

SURAT PERJANJIAN dgn YAHUDI MEDINAH

Adalah suatu kebiasaan universal bahwa dua pihak yg berselisih mengangkat seorang mediator sbg penengah. Muhamad, yang semula dianggap sebagai orang asing dengan demikian dianggap tidak memihak salah satu sukupun, diminta untuk menjadi juru pisah atas konflik-konflik yang terjadi kemudian. Hal yang perlu dicatat adalah bahwa konflik yang terjadi di Yathrib TIDAK terjadi antara Muslim dan Yahudi; karena jika demikian Muhamad tidak mungkin dianggap sebagai penengah. Konflik yg terjadi adalah antara Muslim dgn suku QURAISH Mekah (suku Muhamad sendiri)
Bantahan : Benang kedustaan terdeteksi, faktanya dibolak balek...? Mengapa harus begitu? Kisah diatas seolah-olah Nabi Muhammad di angkat oleh kaum yahudi sebagai penengah? Itu salah besar... Rasulullah mempunyai kekuasaan Mutlak disitu sehingga kaum yahudi dan Nasrani memang harus tunduk, mengapa harus tunduk? Itu karena delegasi Uskup dari suku Najran dan Romawi Syurachbil dikenal juga dengan (Abu Charitsah dari Bani Bakr bin Wail, sebagai Uskup paling alim). , Abdullah Aqib dikenal juga dengan (sebutan-sebutan Abdul-Masih). dan Jabbar dikenal juga dengan (Sayyid, karena kekuasaannya sebagai Aiham) telah menyerah untuk mubahalah[1] dengan Nabi. Dengan menyerah seprti itu maka Rasulullah masih sedikit toleransi dengan mengikat mereka dengan surat perjanjian itu, seandainya mereka tidak menyerah Habislah kalian semua tokoh-tokoh Nasrani dan yahudi dampak dari mubahalah itu. [Lihat: ‘Uyun Al-Atsar fi Funun  Penerbit Muassasah Izzuddin: Beirut, jld I, hlm 169.]

Juga telah kita lihat sebelumnya tidak ada perseteruan agama yang terjadi di Yathrib. Tetapi bagaimanapun, kaum Yahudi adalah bagian dari perjanjian itu karena mereka mengikat perserikatan dengan suku2 Arab.
Bantahan : Tidak ada persetruan di Yatsrib itu benar karena tokoh-tokoh setempat telah masuk Islam dan minta Bai’at kepada Nabi, bagaiman mungkin ada perseteruan? Adapun tokoh-tokoh di Yatsrib yang masuk Islam ada enam orang pertama kali yaitu : (1) As'ad bin Zurarah dari bani an Najjar, (2) Rafi bin Malik dari bani Zuraik, (3) Auf bin Harits dari Bani an Najjar, (4) Quthbah bin Amir dari Bani slamh, (5) Uqbah bin Amir dari Bani Hiram, dan (6) Jabir bin Abdiwah dari Bani Ubaid [Lihat; Samir Al-Aththar, penerbit Maktabah Ar-Ridlo: Kairo, hlm 156-157].

Ini kesempatan emas bagi karir kenabian Muhamad yang sudah lama ia impikan. Sebagai bagian dari perjanjian itu, suku-suku itu tentulah akan melindungi sang Nabi dan juga anak istrinya dari serangan penduduk Mekah. Jumlah mengikut Muslim di Yathrib semakin bertambah karena Yahudi menawarkan tempat mereka itu sbg tempat pengungsian aman bagi imigran Muslim. Yahudi tidak sekalipun mengira bahwa orang yang telah mereka berikan suaka akan berbalik melawan mereka, apalagi menghancurkan mereka.
Bantahan : Kenabian bukanlah suatu hal yang di impikan manusiawi, Nabi Muhammad SAW bukan sebagai bagian dari perjanjian itu, tetapi Nabi Muhammad sebagai penguasa penuh atas surat perjanjian itu. Sedangakan suku-suku itu melindungi hanya karena terikat oleh surat perjanjian yang mereka sepakati, sebagaimana yang tercatat dalam surat saling melindungi, jadi bukan suku-suku itu saja yang melindungi termasuk kaum Muslim juga melindungi suku-suku itu. Adapun yang memberikan tempat imigran Muslim adalah Najasyi yaitu Raja Habasyah [Lihat: Al-Ghabah fi Ma’rifati Ash-Shahabah,  Penerbit Al-Maktabah At-Taufiqiyah: Kairo, jld I, hlm 139.]. Ibnu Hajar menyebutkan Nama aslinya Raja itu adalah “Ashomah” [Lihat : Al-Fath XI-195]

Perjanjian itu tidak memberi Muhamad kekuasaan untuk memerintah. Ibnu Hisham melaporkan sebagian dari perjanjian itu. Tetapi sebagaimana yang akan kita lihat, perjanjian itu telah dimanipulasi. Tertulis :

“Yahudi harus menanggung pajak mereka dan Muslim juga harus menanggung pajak mereka. Masing-masing pihak harus membantu yang lain dari ancaman pihak luar. Mereka harus mengutatamakan saling membantu, berkonsultasi, dan kesetiaan dan tidak melakukan pengkhianatan. Mereka harus dengan sungguh-sungguh berdoa bagi keselamatan pihak lain. Hubungan antar pihak ini didasarkan pada kesalehan dan kemauan untuk mengakui hak-hak pihak lain, tidak didasarkan atas dosa dan perbuatan tercela. Orang yang bersalah harus dibantu untuk diperbaiki. Yahudi harus ikut serta membantu orang beragama lain selama perang berlangsung. Yathrib akan menjadi tempat perlindungan untuk orang-orang yang ada di dokumen ini. Bila ada konflik atau pertikaian yang akan menimbulkan masalah besar, maka haruslah diserahkan kepada Tuhan dan Muhamad sebagai utusan Tuhan; kaum Quraish dan sekutunya tidak boleh diberi bantuan dan perlindungan. Pihak-pihak yang ikut dalam perjanjian ini haruslah saling membantu dalam melawan setiap serangan ke Yathrib; setiap orang haruslah bertanggung jawab mempertahankan tanah dimana ia tinggal” (Ibn Hisham, vol. ii, pp 147-150)
Bantahan : Mengenai surat perjanjian akan kami cantumkan dibawah nanti biar lebih jelas dan gamblang, yang perlu anda catat adalah bahwa dalam isian surat itu tidak ada yang di manipulasi, sebagaimana dalam ajaran kaum Muslim tidak diperkenankan untuk berbohong, dan itu dilarang keras, Terlebih mengenai sejarah yang kami adopsi menggunakan jalur Hadist, mutlak tidak boleh ada yang berani merubah walaupun cuman sedikit!. Kami bawakan Isi surat itu langsung dari hadist yang sangat shahih dan dapat dipertanggung jawabkan kebenaran-nya. Lihat dibawah

Ada beberapa petunjuk bahwa dokumen perjanjian itu telah dimanipulasi. Hal yang paling nyata adalah bahwa tidak mungkin Yahudi mau menandatangani dokumen yang mengakui bahwa Muhamad adalah utusan Allah. Karena hal ini berarti penerimaan atas pernyataan Muhamad bahwa ia adalah utusan Allah. Jadi nyatalah bahwa dokumen di atas, kelihatannya telah dimanipulasi.
Bantahan : Disini pemahaman yahudi dan nasrani mulai kacau..! Persetujuan yahudi dan nasrani dalam surat tersebut, Rasulullah (Nabi Muhammad) bukan menyuruh kaum yahudi dan nasrani mengakui bahwa Muhammad adalah Nabi..! Tetapi yang di sepakati adalah perjanjian damai dan salaing menjaga satu dengan yang lain. Baca surat perjanjiannya dibawah Catat itu!

Juga ada beberapa kontradiksi dalam konteks dokumen tersebut. Ini diawali dengan adanya suatu perjanjian yang ditangani oleh dua suku yang berkuasa yang mempunyai hak dan kekuatan yang sama. Tetapi kemudian terdapat kalimat, ” Yahudi harus ikut serta membantu orang beragama lain selama perang berlangsung “ dan “Bila ada konflik atau pertikaian yang akan menimbulkan masalah besar, maka haruslah diserahkan kepada Tuhan dan Muhammad sebagai utusan Tuhan;” menyatakan adanya suatu kesan adanya ketidakseimbangan.

Pernyataan2 tsb nampaknya disisipkan belakangan. Pernyatan itu membuat Muslim mempunyai kekuatan yang lebih, padahal di bagian lain perjanjian dikatakan bahwa semua pihak mempunyai hak yang sama. Point yang paling penting adalah bagaimana mungkin Muhamad dianggap sebagai penengah sementara ia sendiri adalah pihak yang diuntungkan dari perjanjian itu ??
Bantahan : Disisni semakain jelas bahwa yahudi dan nasrani tidak memahami dengan jeli masalah sejarah, dikatakan di atas bahwa adanya suatu ketidak seimbangan..! ya pastilah tidak imbang. Mengapa? Kan yang menyerah memang dari suku Najran dan Romawi Syurachbil, Abdullah dan Jabbar. telah menyerah dari tantangan mubahalah. Makanya sebelum angkat bicara pelajari dulu yang teliti. Mengenai perjanjian yang mengatakan “bahwa semua pihak mempunyai hak yang sama” ini memang benar dalam masalah ketenangan beribadah, yahudi dan nasrani tidak boleh mengganggu ummat Muslim beribadah, dan bahkan surat yang di buat oleh Rasulullah (Nabi Muhammad) memberi perlindungan kepada yahudi dan nasrani, umat Muslim dilarang menghancurkan gereja. Dan seandainya didapati umat Muslim melanggar surat perjanjian maka Rasulullah sendiri yang akan menghukumnya.

Nah maka ternyata siapa yang melanggar surat perjanjian itu umat Muslim atau kaun Najrani? Dalam masalah ini juga sebagai bukti bahwa kaum yahudi dan nasrani memang tidak bisa pegang janji, dan selalu berhianat dalam kesepakatan hal ini memang sama persis seperti yang disampaikan oleh rabbani yahudi sebelum masuk Islam dahulu[2]


Mengherankan bahwa cendekiawan Muslim mempelajari surat tersebut selama berabad2 dan tidak sedikitpun mempertanyakan bagaimana mungkin Muhamad diangkat menjadi penengah dalam sebuah perjanjian, padahal ia sendiri ikut sbg salah satu pihak dlm perjanjian itu ??? Hal-hal itulah yang menguatkan bahwa perjanjian tersebut tidak otentik. Tetapi karena Muhamad dan pengikut-nya telah menghancurkan dokumen yang asli, maka tidak ada satupun yang tertinggal untuk kita, kecuali dokumen yang cacat tersebut.
Bantahan : Ya tentu saja cendikiawan Muslim tidak mempertanyakan... karena masalah ini memang sudah jelas bahwa Nabi Muhammad sebagai pemegang kekuasaan mutlak dalam surat perjanjian itu, tetapi cerita sejarah ini akan berlainan ketika keluar dari mulut yahudi dan nasrani. Sedangkan dikalangan Muslim hal ini telah disepakati Ulama dan para sejarawan dunia. Dan tidak ada dokumen yang dihancurkan sedikitpun, semuanya tercatat dalam kitab-kitab hadist yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Dan kondisinya masih tetap dapat dipertanggung jawab-kan. Kalau dokumen itu di anggap cacat maka itu anggapan yahudi dan nasrani saja untuk berpaling dari kekalahan masalalu.

Lihat langsung ketempatnya yang kami bantah ini : http://chtistianwarrior.blogspot.com/2012/12/alasan-mengapa-bangsa-yahudi-tidak.html



Bantahan Kecil Kami

Bantahan kami atas pernyataan diatas. (1) Dari pengutipan isi surat-nya saja sudah tidak jelas (“Ibn Hisham, vol. ii, pp 147-150”). Lain kali bila menukil bawa yang jelas text Arab-nya, karena Ibn Hisham didalam kitabnya menulis dengan text Arab dan menggunakan bahasa Arab, bukan terjemahan seperti itu! Bila seperti itu bisa dipastikan bahwa Nasrani tidak melihat langsung pada kitabnya.

Dari pengkajian Nasrani di atas, bisa dipastikan bahwa mereka tidak mengetahui latar belakang permasalahan! Belum mengetahui sejarah sudah angkat bicara, ini yang membuat mereka tampak lucu.


Surat Perjanjian Rasulullah Dengan Kaum Najran

Adapun mengenai surat perjanjian Nabi Muhammad SAW dengan kaum Najran yahudi dan nasrani Madinah diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam Sunan-nya yang masyhur dan hal ini dapat dipertanggung jawabkan keutuhannya, ini bukan main-main perhatikan hadist dibawah ini :

سنن أبي داود - (ج 8 / ص 279)2644 - حَدَّثَنَا مُصَرِّفُ بْنُ عَمْرٍو الْيَامِيُّ حَدَّثَنَا يُونُسُ يَعْنِي ابْنَ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا أَسْبَاطُ بْنُ نَصْرٍ الْهَمْدَانِيُّ عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْقُرَشِيِّ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ صَالَحَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَهْلَ نَجْرَانَ عَلَى أَلْفَيْ حُلَّةٍ النِّصْفُ فِي صَفَرٍ وَالْبَقِيَّةُ فِي رَجَبٍ يُؤَدُّونَهَا إِلَى الْمُسْلِمِينَ وَعَوَرِ ثَلَاثِينَ دِرْعًا وَثَلَاثِينَ فَرَسًا وَثَلَاثِينَ بَعِيرًا وَثَلَاثِينَ مِنْ كُلِّ صِنْفٍ مِنْ أَصْنَافِ السِّلَاحِ يَغْزُونَ بِهَا وَالْمُسْلِمُونَ ضَامِنُونَ لَهَا حَتَّى يَرُدُّوهَا عَلَيْهِمْ إِنْ كَانَ بِالْيَمَنِ كَيْدٌ أَوْ غَدْرَةٌ عَلَى أَنْ لَا تُهْدَمَ لَهُمْ بَيْعَةٌ وَلَا يُخْرَجَ لَهُمْ قَسٌّ وَلَا يُفْتَنُوا عَنْ دِينِهِمْ مَا لَمْ يُحْدِثُوا حَدَثًا أَوْ يَأْكُلُوا الرِّبَا قَالَ إِسْمَعِيلُ فَقَدْ أَكَلُوا الرِّبَا قَالَ أَبُو دَاوُد إِذَا نَقَضُوا بَعْضَ مَا اشْتُرِطَ عَلَيْهِمْ فَقَدْ أَحْدَثُوا

Ibnu Abbas RA berkata, “Rasulullah SAW telah mendamai penduduk Najran dengan persyaratan: [1] ), Mereka menyetorkan 2.000 chullah, pada Muslimiin, yang setengah diberikan pada bulan Sapar, sisanya pada bulan Rajab. [2] ), Mereka meminjami 30 baju perang 30 kuda, 30 unta, 30 macam peralatan perang, untuk berperang. Peminjaman ini berlaku jika ada serangan atau pengkhianatan di Yaman, dan harus dikembalikan lagi. [3] ), Gereja tidak boleh dirobohkan dan alim Nashrani tidak boleh diusir dari Gereja. [4] ), Selama mereka tidak membuat pembaharuan atau tidak makan riba, agama mereka tidak boleh dirusak.”[HR Abu Dawud No 2644].

Lalu apakah dengan begitu berarti ummat Muslim lebih mengutamakan materi atau duniawi? Tentu tidak, sangat banyak alasan yang bisa kita kemukakan dalam masalah ini, Nanti kita bahas pada catatan lain. Nah surat perjanjian itu di terima dengan senag hati oleh bangsa Najran, (Kafir Madinah) dan Imam Bukhari sedikit menyinggung masalah ini :

صحيح البخاري - (ج 13 / ص 284) 4029 - حَدَّثَنِي عَبَّاسُ بْنُ الْحُسَيْنِ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ عَنْ إِسْرَائِيلَ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنْ صِلَةَ بْنِ زُفَرَ عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ جَاءَ الْعَاقِبُ وَالسَّيِّدُ صَاحِبَا نَجْرَانَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرِيدَانِ أَنْ يُلَاعِنَاهُ قَالَ فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ لَا تَفْعَلْ فَوَاللَّهِ لَئِنْ كَانَ نَبِيًّا فَلَاعَنَّا لَا نُفْلِحُ نَحْنُ وَلَا عَقِبُنَا مِنْ بَعْدِنَا قَالَا إِنَّا نُعْطِيكَ مَا سَأَلْتَنَا وَابْعَثْ مَعَنَا رَجُلًا أَمِينًا وَلَا تَبْعَثْ مَعَنَا إِلَّا أَمِينًا فَقَالَ لَأَبْعَثَنَّ مَعَكُمْ رَجُلًا أَمِينًا حَقَّ أَمِينٍ فَاسْتَشْرَفَ لَهُ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ قُمْ يَا أَبَا عُبَيْدَةَ بْنَ الْجَرَّاحِ فَلَمَّا قَامَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا أَمِينُ هَذِهِ الْأُمَّةِ

Telah menceritakan kepadaku Abbas bin Husain Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam dari Israil dari Abu Ishaq dari Shilah bin Zufar dari Hudzaifah dia berkata; Seorang baginda dan budak dari Najran mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam untuk melaknat beliau, Hudzaifah berkata; salah satu dari mereka berkata kepada temannya; 'Jangan kamu lakukan, Demi Allah, Seandainya dia benar seorang nabi maka dia yang akan melaknat kita, hingga kita tidak akan pernah beruntung dan tidak punya keturunan lagi setelah kita. Kemudian keduanya berkata: wahai Rasulullah! Kami akan memberikan apa yang engkau minta kepada kami. Oleh karena itu utuslah orang kepercayaan engkau kepada kami. Dan jangan sekali-kali engkau mengutusnya kecuali memang orang itu sangat terpercaya. Maka nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : Aku akan mengutus orang kepercayaan yang sebenar-benarnya. Maka para sahabat merasa penasaran dan akhirnya menunggu-nunggu orang yang dimaksud oleh Rasulullah itu. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Berdirilah wahai Abu Ubaidah bin Jarrah! ' setelah Abu Ubaidah bin Jarrah berdiri, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Dialah orang kepercayaan umat ini.[HR.bukhari No : 4029]

حَدّثَنِي يَزِيدُ بْنُ سُفْيَانَ عَنْ ابْنِ الْبَيْلَمَانِيّ عَنْ كُرْزِ بْنِ عَلْقَمَةَ قَالَ قَدِمَ عَلَى رَسُولِ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ وَفْدُ نَصَارَى نَجْرَانَ سِتّونَ رَاكِبًا مِنْهُمْ أَرْبَعَةٌ وَعِشْرُونَ رَجُلًا مِنْ أَشْرَافِهِمْ وَالْأَرْبَعَةُ وَالْعِشْرُونَ مِنْهُمْ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ إلَيْهِمْ يَئُولُ أَمْرُهُمْ الْعَاقِبُ أَمِيرُ الْقَوْمِ وَذُو رَأْيِهِمْ وَصَاحِبُ مَشُورَتِهِمْ وَاَلّذِي لَا يَصْدُرُونَ إلّا عَنْ رَأْيِهِ وَأَمْرِهِ وَاسْمُهُ عَبْدُ الْمَسِيحِ وَالسّيّدُ ثِمَالُهُمْ وَصَاحِبُ رَحْلِهِمْ وَمُجْتَمَعِهِمْ وَاسْمُهُ الْأَيْهَمُ وَأَبُو حَارِثَةَ بْنُ عَلْقَمَةَ أَخُو بَنِي بَكْرِ بْنِ وَائِلٍ أُسْقُفُهُمْ وَحَبْرُهُمْ وَإِمَامُهُمْ وَصَاحِبُ مِدْرَاسِهِمْ . وَكَانَ أَبُو حَارِثَةَ قَدْ شَرُفَ فِيهِمْ وَدَرَسَ كُتُبَهُمْ وَكَانَتْ مُلُوكُ الرّومِ مِنْ أَهْلِ النّصْرَانِيّةِ قَدْ شَرّفُوهُ وَمَوّلُوهُ وَأَخْدَمُوهُ وَبَنَوْا لَهُ الْكَنَائِسَ وَبَسَطُوا عَلَيْهِ الْكَرَامَاتِ لِمَا يَبْلُغُهُمْ عَنْهُ مِنْ عِلْمِهِ وَاجْتِهَادِهِ فِي دِينِهِمْ .

Yazid bin Sufyan murid Ibnul-Bailamani murid Kurzu bin Alqamah bercerita padaku: Emanpuluh orang tamu utusan Nashrani Najran datang pada Rasulallah SAW. Dari mereka ada 24 tokoh. Dari 24 tokoh itu ada 3 petinggi yang paling berkuasa yang mengurusi perkara mereka: (1), Aqib, pimpinan tertinggi para tamu, yang petunjuknya harus diikuti yang memimpin musyawarah mereka. Mereka tidak boleh menentukan keputusan kecuali telah dia setujui dan dia putuskan. Dialah yang disebut-sebut Abdul-Masih. (2), Sayyid, pelindung yang berwenang menentukan berangakat dan pulang, dan mengumpulkan rombongan. Dialah yang disebut-sebut sebagai Aiham. (3), Abu Charitsah bin Alqamah famili Bani Bakr bin Wail, sebagai Uskup, Alim, dan Imam mereka yang kekuasaannya paling tinggi. Dia pula yang berwenang mengurusi pendidikan mereka.

Haritsah yang sangat agung di mata mereka ini telah mempelajari kitab-kitab Nashrani. Sungguh raja-raja Romawi pemeluk agama Nashrani menghormati dan melayani, bahkan mereka membangunkan sejumlah biara dan memuliakan dia, karena ilmunya dan ijtihadnya mengenai agama dia yang mereka nilai hebat.  “Sebetulnya pimpinan para tamu yang bernama Abu Charitsah bin Alqamah itu tahu pasti bahwa nabi terakhir yang pernah disabdakan oleh Isa bin Maryam AS  adalah Nabi Muhammad SAW.

” Saat itu Abu Haritsah mengendarai kuda bagal didampingi oleh saudaranya bernama Kurzu. Tiba-tiba kuda Abu Haritsah hampir jatuh karena kakinya tersandung. Kurzu mengumpat, “Kurangajar orang jauh itu!.”( Maksudnya Nabi Muhammad SAW ). Abu Haritsah menjawab, “Justru kamu yang kurangajar!.” Kurzu bertanya, “Kenapa?.” Abu Haritsah menjawab, “Dialah nabi ummi yang kita tunggu-tunggu kedatangannya.” Kurzu bertanya, “Kenapa kau tidak menjadi pengikutnya padahal kau tahu dialah yang kita tunggu-tunggu?.” Abu Haritsah menjawab, “Kaum Romawi yang sama memuliakan dan mengistimewakan kita dengan beberapa fasilitas, ingin menentang Muhammad. Kalau kita menentang mereka, semua fasilitas yang telah diberikan pada kita pasti ditarik.” Kurzu diam dan menyimpan rahasia itu hingga akhirnya masuk Islam.


Penjelasan :

[1] Bermubahalah adalah perintah dari Allah SWT, dalam wahyu yang dibawah Malaikat Jibril pada pagi hari seperti berikut :
إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آَدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ . الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُنْ مِنَ الْمُمْتَرِينَ . فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَةَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ . (آل عمران : 59-61)

“Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah itu seperti Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya; ‘Jadilah’ (seorang manusia), maka jadilah dia. Itulah kebenaran yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa setelah datang ilmu kepadamu, maka katakanlah; ‘Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kalian, istri-istri kami dan istri-istri kalian, dan diri kami juga diri kalian; lalu mari kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang berdusta.” (Ali ‘Imran: 59-61)

Mereka sangat takut jika Muhammad benar-benar Nabi, maka akan hancurlah mereka beserta keluarganya. Syurachbil bertanya, “Hai Abdullah dan Jabbar! Sungguh kalian berdua telah tahu bahwa jika lembah ini dipenuhi manusia hingga atas, semua bisa rusak terkena siksaan. Saya yakin (ber-mubahalah) ini urusan serius, demi Allah jika dia hanya seorang raja maka saya pasti yang pertama kali menusuk matanya dan menghalang-halangi gerakannya. Dia dan kaumnya pasti akan mengganggu kenyamanan hidup kita. Kita adalah tetangga Arab terdekat dengan dia dan kaumnya. Namun jika dia benar-benar nabi, kita tidak boleh melayani ajakannya ber-mubahalah yang isinya agar kita dilaknat jika berbohong, karena akan berakibat kita hingga rambut serta kuku kita akan habis terkena siksaan.” Abdullah dan Jabbar bertanya, “Lalu bagaimana sebaiknya, kaulah yang selama ini pendapatnya diikuti oleh semua orang. Katakan.” Dia berkata, “Sebaiknya kita menyerah akan diapakan, karena dia takkan keliru hukumnya.” Mereka berdua berkata, “Baiklah kalau begitu.” [Lihat dalam : Sirah Ibnu Ishaq, Sirah Ibnu Hisyam, ‘Uyun Al-Atsar, Subul Al-Huda wa Ar-Rasyad fi Sirati Khairi Al-‘Ibad, Fiqh As-Sirah, Nur Al-Yaqin fi Sirati Sayyidi Al-Mursalin, Ar-Rahiq Al-Makhtum, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Abi Hatim, Tafsir Ath-Thabari, Dala`il An-Nubuwwah (Al-Baihaqi), dan lain-lain].

[2] Abdullah bin Salam ini nama pemberian Rasulullah SAW setelah Rabi yahudi ini masuk Islam. Nanti kita bahas khusus tentang latar belakang Abdullah bin Salam.

 حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُنِيرٍ سَمِعَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ بَكْرٍ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ قَالَ سَمِعَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلَامٍ بِقُدُومِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهْوَ فِي أَرْضٍ يَخْتَرِفُ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي سَائِلُكَ عَنْ ثَلَاثٍ لَا يَعْلَمُهُنَّ إِلَّا نَبِيٌّ فَمَا أَوَّلُ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ وَمَا أَوَّلُ طَعَامِ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَمَا يَنْزِعُ الْوَلَدُ إِلَى أَبِيهِ أَوْ إِلَى أُمِّهِ قَالَ أَخْبَرَنِي بِهِنَّ جِبْرِيلُ آنِفًا قَالَ جِبْرِيلُ قَالَ نَعَمْ قَالَ ذَاكَ عَدُوُّ الْيَهُودِ مِنْ الْمَلَائِكَةِ فَقَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ { مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ } أَمَّا أَوَّلُ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ فَنَارٌ تَحْشُرُ النَّاسَ مِنْ الْمَشْرِقِ إِلَى الْمَغْرِبِ وَأَمَّا أَوَّلُ طَعَامٍ يَأْكُلُهُ أَهْلُ الْجَنَّةِ فَزِيَادَةُ كَبِدِ حُوتٍ وَإِذَا سَبَقَ مَاءُ الرَّجُلِ مَاءَ الْمَرْأَةِ نَزَعَ الْوَلَدَ وَإِذَا سَبَقَ مَاءُ الْمَرْأَةِ نَزَعَتْ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الْيَهُودَ قَوْمٌ بُهُتٌ وَإِنَّهُمْ إِنْ يَعْلَمُوا بِإِسْلَامِي قَبْلَ أَنْ تَسْأَلَهُمْ يَبْهَتُونِي فَجَاءَتْ الْيَهُودُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ رَجُلٍ عَبْدُ اللَّهِ فِيكُمْ قَالُوا خَيْرُنَا وَابْنُ خَيْرِنَا وَسَيِّدُنَا وَابْنُ سَيِّدِنَا قَالَ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَسْلَمَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلَامٍ فَقَالُوا أَعَاذَهُ اللَّهُ مِنْ ذَلِكَ فَخَرَجَ عَبْدُ اللَّهِ فَقَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَقَالُوا شَرُّنَا وَابْنُ شَرِّنَا وَانْتَقَصُوهُ قَالَ فَهَذَا الَّذِي كُنْتُ أَخَافُ يَا رَسُولَ اللَّهِ

Dari Anas dia berkata; 'Abdullah bin Salam mendengar kedatangan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi. Maka ia langsung menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam seraya berkata; Wahai Rasulullah, aku bertanya kepadamu tentang tiga perkara tidak akan ada yang dapat menjawab kecuali seorang Nabi, Apakah yang terjadi pertama kali dari tanda-tanda hari kiamat, apa yang pertama kali dimakan oleh penduduk surga, dan dari mana seseorang dapat menyerupai bapaknya atau ibunya? Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Jibril 'Alaihis Salam baru saja memberiku kabar.

Abdullah bertanya ; siapakah Jibril? Beliau menjawab: Ia adalah malaikat yang sangat dimusuhi yahudi. Beliau bersabda : Tanda hari kiamat yang akan terjadi pertama kali adalah api yang keluar dari timur yang akan menggiring manusia ke barat, adapun sesuatu yang pertama kali dimakan penduduk surga adalah hati ikan hiu, adapun darimana seseorang dapat menyerupai bapak atau ibunya adalah apabila air mani laki-laki dapat mendahului sel telur wanita maka akan keluar laki-laki, dan apabila sel telur wanita dapat mendahului air mani laki-laki maka akan keluar wanita.

Kemudian Abdullah bin Salam berkata; Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak untuk disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah. Kemudian dia berkata lagi ; Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang yahudi itu adalah kaum yang pendusta, kalau mereka mengetahui keIslamanku mereka pasti akan menghinaku dihadapanmu. Maka utuslah seseorang agar memanggil mereka dan tanyakan kepada mereka tentang aku. Beliau lalu mengutus seseorang untuk memanggil mereka, lalu beliau bertanya kepada mereka : Siapakah Abdullah bin Salam di menurut kalian? Mereka menjawab; Dia adalah orang terbaik kami dan anak dari orang terbaik dari kami, dia adalah tuan kami dan anak dari tuan kami.

Beliau bertanya lagi: Bagaimana menurut kalian, kalau seandainya dia masuk Islam? Mereka menjawab; Mudah-mudahan Allah melindunginya dari hal itu (masuk Islam). Maka Abdullah bin Salam keluar seraya mengatakan; Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak untuk disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Lalu mereka berkata; Dia adalah orang yang paling jelek di antara kami dan anak dari orang yang paling jelek di antara kami. -Mereka menjelek-jelekkan Abdullah bin Salam.- Setelah itu Abdullah bin Salam berkata; Inilah yang paling aku khawatirkan.[HR.bukhari No : 4120].


-------------------------------------------------------------------------------------
Footnote : Untuk catatan yang kami beri latar hitam adalah tulisan kaum nasrani yang kami kutip dari lamannya, adapun bantahan yang kami cantumkan dengan latar warna kuning adalah bantahan kami selaku Muslim yang masih faqir Inda Robbi, Tetapi kami tidak akan tinggal diam tetkala kebenaran hendak di tutupi.




© Post Original & Official®
 █║▌│█│║▌║││█║▌║▌║
Verified Official by Soffah.net

Post a Comment Blogger

Apa opini dari anda?