Propaganda Sesat Amerika dan Kampanye Menipu - Soffah.Net

0
Foto Obama

Lintas Soffah - Netanyahu dan “kelompok penyihir jahat-“nya mungkin percaya bahwa cukup dengan melambaikan tongkat sihir “perdamaian,” maka seketika itu juga akan bisa menyembunyikan pembantaian berdarah dan agresi berkelanjutan Israel terhadap rakyat dan bangsa Palestina. Namun sayangnya, ilusi Zionisme itu agaknya takkan pernah kesampaian.

Pertanyaan yang berlaku untuk pemerintah, lembaga keamanan, kolumnis media dan lobi pro-Israel yang secara teratur mendukung gairah untuk “perdamaian di Tanah Suci” adalah: Bagaimana mungkin rezim penjajah itu memproklamirkan perdamaian jika fakta di lapangan menunjukkan semua tipu-tipu kampanye perdamaian itu hanya demi tujuan melanjutkan ketidak adilan tanpa hambatan?

Sementara di permukaan boleh saja kampanye tentang perdamaian itu seolah menjadi aspirasi normal dan patut dipuji, namun dalam pengalaman Palestina selama ini, sayangnya, semua itu penuh dengan inkonsistensi, pengingkaran, hingga ketidak jujuran yang mengkhawatirkan​​.

Arti sesungguhnya dari “perdamaian” yang dianut oleh para pemimpin Israel tak lebih dari “tumpukan dan anyaman daun ara” yang digunakan sebagai pembungkus dalam upaya untuk menyembunyikan represi rezim Israel yang tak henti-hentinya terhadap hak-hak bangsa Palestina.

Meskipun frasa “damai” sejatinya adalah sebuah konsep perwujudan nilai-nilai manusiawi yang terkait dengan rasa tenang dan ketenangan, namun bagi warga Palestina hal itu malah memiliki efek sebaliknya: menghancurkan. Pengalaman sehari-hari mereka apakah sebagai pengungsi yang menunggu kembali ke rumah dan tanah kelahiran atau secara kolektif dalam statusnya sebagai warga pendudukan, menunjuk ke sebuah kehidupan penaklukan yang selama beberapa dekade telah dimanfaatkan oleh pemerintah Israel secara berkelanjutan.

Sementara penipuan yang melekat dalam apa yang disebut keinginan Israel untuk “perdamaian” makin dikenal, didokumentasi dan disebarkan cukup luas, juga diketahui bahwa dengan bersandar pada gagasan palsu ini, Israel telah berusaha untuk membelokkan pengawasan perilaku tak adil rezim Zionis itu terhadap bangsa Palestina.

Penyesatan opini publik dunia yang memang secara sengaja dilakukan dan diperhitungkan tersebut telah membantu Israel dan para pendukungnya untuk sesekali menggertak dunia. Dengan mempertaruhkan klaim sebagai negara “damai” yang warganya berhak hidup dalam “damai,” begitulah arsitek sosial Israel berharap akan mendapatkan kekebalan dari kecaman atas segala bentuk penindasan dan kebiadaban militer yang selama ini telah mereka lakukan.

Dengan menjadikan politik linguistik “perdamaian” itu pula, meski kenyataannya sama sekali tanpa koneksi ke nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kata “damai” itu, rezim Zionis ini tampaknya sengaja menempuh penyesatan opini yang ekstrem dan sangat berbahaya, untuk menyiratkan pesan bahwa siapapun yang menentang Israel, maka akan sama artinya dengan menentang “perdamaian.”

Dengan kata lain, siapapun yang anti-Israelism, maka sudah bisa disamakan dengan kelompok pelaku kekerasan tak berperi kemanusiaan. Jenis pemikiran yang rusak ini sengaja dibangun untuk menjelekkan setiap pelawan “status kolonial rezim” sebagai pelaku kekerasan. Jadi dalam konteks kontras “damai” dan “kekerasan,” Israel terus menggalang dukungan untuk kebiadaban yang seolah merupakan tindakan yang perlu dilakukan berdasarkan aspirasi kebanyakan orang yang tanpa ragu sudah termakan kampanye palsu “perdamaian” tersebut.

Dengan cara serupa, baru-baru ini Netanyahu tampaknya telah mengulang trik kotor ini sekali lagi di PBB. Dengan memposisikan Israel sebagai korban “terorisme” yang dilakukan oleh para ideolog dan para pelaku “kekerasan” yang mereka sebut sebagai “kelompok radikal Islam,” PM Israel itu berharap dapat mengumpulkan dan menuai simpati global hingga dengan demikian melindungi aksi apartheid rezimnya yang berlumur kekejaman.

Heboh pemboman atas Irak dan Suriah yang dikomandoi Amerika bersekongkol dengan Inggris dan Perancis serta masing-masing klien Arab tiga negara itu, secara tak langsung telah memberikan Israel waktu yang sempurna untuk menutupi segala perilaku biadabnya.

Dunia sengaja dibuat lupa pada teroris yang sebenarnya, yakni Israel dan Amerika, karena media secara masif memberitakan, justru negeri Paman Sam itulah yang sedang memimpin upaya “perang melawan teror” menghadapi musuh baru bernama ISIS atau IS, yang sering disebut sebagai Negara Islam.

Dalam sekejap, ISIS telah muncul sebagai penjahat baru yang lebih mengancam keberadaan peradaban Barat. Dominasinya di sebagian besar Irak dan Suriah termasuk penguasaan gerombolan bersenjata yang konon merupakan bentukan Amerika itu atas ladang minyak utama di kedua negara, seakan sengaja diendapkan dan disamarkan dengan apa yang kebanyakan orang saat ini asosiasikan, bahwa ISIS hanya identik dengan: “pemenggalan kepala wartawan Barat,” bukan dengan “pencaplokan dan penguasaan mereka atas ladang-ladang minyak di Suriah dan Irak.”

Seketika itu juga “hantu Islam” ini muncul bukan hanya berhasil mengalihkan perhatian global terhadap aksi “pemenggalan Israel” terhadap kepala ribuan orang dari keluarga Palestina, tetapi juga untuk memperpanjang masa tumbuh-kembang industri militer Amerika selaku pemasok utama semua senjata ke tengah arena konflik tak berkesudahan di Timur Tengah dan kawasan.

Dan, yang tak kalah penting tentu saja, untuk memberikan Netanyahu kesempatan melemparkan stigma dan tuduhan miring terhadap gerakan perlawanan seperti Hamas dan Jihad Islam, sebagai dua entitas yang bisa diidentikkan dengan ISIS.

Inilah trik sulap dan sihir ala Netanyahu, dibantu kelompok para penyihir jahatnya yang boleh jadi membuat sebagian orang terpesona, lalu lupa pada aksi perampasan atas tanah dan hak-hak hidup bangsa Palestina oleh rezim terkutuk Zionis Israel yang hingga saat ini terus berlangsung.

Apakah trik kotor itu telah mencapai hasil seperti yang Netanyahu harapkan?

Menilik aksi boikot berkelanjutan terhadap barang-barang produksi Israel, yang belakangan ini kian menyebar ke seluruh dunia, dibarengi demonstrasi besar-besaran menentang pendudukan Israel atas Palestina, mungkin bisa dianggap sebagai pertanda yang jelas bahwa upaya tipu-tipu Netanyahu itu telah gagal secara menyedihkan. Dunia tampaknya makin sadar dan terbuka melihat fakta, dan karenanya mereka takkan semudah itu tertipu oleh gagasan palsu dan kampanye “perdamaian” ala Israel dan Netanyahu, beserta Amerika, kroni-kroni Barat dan Arabiya.

Amati dengan cermat foto di atas.

Siapa, atau yang mana di antara ketiganya yang BUKAN penjahat perang? Siapa, atau yang mana di antara ketiganya yang JUSTRU DIANUGERAHI Nobel Perdamaian?

Bukankah fakta tak terbantah telah menunjukkan, bahwa ketiganya senantiasa saling dukung TANPA RAGU atas setiap tindakan teror dan genosida yang masing-masing mereka lakukan? Di Palestina, Afghanistan, Libya, Suriah, Irak, dan beberapa negara lainnya?

Dan bukankah juga mereka, yang TANPA RAGU mengklaim diri sebagai yang paling pantas bicara soal HAM, perdamaian, dan kemanusiaan?

Terangkum dalam : Berita Protes

Post a Comment Blogger

Apa opini dari anda?