Memperingati Hari Asyura Dalam Pandangan Aswaja - Soffah.Net

0
Hendaklah dalam adanya amalan yang tidak di sukai tidak menuding dengan tudingan yang extreem dan kaku, karena adanya amalan yang tidak ada dalam hadist maka di tuduh sesat. Karena sungguh tuduhan itulah yang akan menyesatkan. Kami tidak mengingkari adanya hadist maudhu’ sebagaimana yang telah di sampaikan oleh Al-Imam Abul Faraj Abdur Rahman, adapun hadist-nya sebagai berikut :

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِنَّ اللهَ عَزَّ وَ جَلَّ افْتَرَضَ عَلَى بَنِى اِسْرَائِيْلَ صَوْمَ يَوْمٍ فى السَّنَةِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَ هُوَ اْليَوْمُ اْلعَاشِرُ مِنَ الْمُحَرَّمِ، فَصُوْمُوْهُ وَ وَسّعُوْا عَلَى اَهْلِيْكُمْ فِيْهِ، فَاِنَّهُ مَنْ وَسَّعَ عَلَى اَهْلِهِ مِنْ مَالِهِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَسَّعَ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ، فَصُوْمُوْهُ فَاِنَّهُ اْليَوْمُ الَّذِى تَابَ اللهُ فِيْهِ عَلَى آدَمَ، وَ هُوَ اْليَوْمُ الَّذِى رَفَعَ اللهُ فِيْهِ اِدْرِيْسَ مَكَانًا عَلِيًّا، وَ هُوَ اْليَوْمُ الَّذِى نَجَّى فِيْهِ اِبْرَاهِيْمَ مِنَ النَّارِ، وَ هُوَ اْليَوْمُ الَّذِى اَخْرَجَ فِيْهِ نُوْحًا مِنَ السَّفِيْنَةِ، وَ هُوَ اْليَوْمُ الَّذِىْ اَنْزَلَ اللهُ فِيْهِ التَّوْرَاةَ عَلَى مُوْسَى، وَ فِيْهِ فَدَى اللهُ اِسْمَاعِيْلَ مِنَ الذَّبْحِ، وَ هُوَ اْليَوْمُ الَّذِى اَخْرَجَ اللهُ يُوْسُفَ مِنَ السّجْنِ، وَ هُوَ اْليَوْمُ الَّذِى رَدَّ اللهُ عَلَى يَعْقُوْبَ بَصَرَهُ، وَ هُوَ اْليَوْمُ الَّذِى كَشَفَ اللهُ فِيْهِ عَنْ اَيُّوْبَ اْلبَلاَءَ، وَ هُوَ اْليَوْمُ الَّذِى اَخْرَجَ اللهُ فِيْهِ يُوْنُسَ مِنْ بَطْنِ اْلحُوْتِ، وَ هُوَ اْليَوْمُ الَّذِى فَلَقَ اللهُ فِيْهِ اْلبَحْرَ لِبَنِى اِسْرَائِيْلَ، وَ هُوَ اْليَوْمُ الَّذِى غَفَرَ اللهُ لِمُحَمَّدٍ ذَنْبَهُ مَا تَقَدَّمَ وَ مَا تَاَخَّرَ، وَ فِى هذَا اْليَوْمِ عَبَرَ مُوْسَى اْلبَحْرَ، وَ فِى هذَا اْليَوْمِ اَنْزَلَ اللهُ تَعَالىَ التَّوْبَةَ عَلَى قَوْمِ يُوْنُسَ، فَمَنْ صَامَ هذَا اْليَوْمَ كَانَتْ لَهُ كَفَّارَةُ اَرْبَعِيْنَ سَنَةً، وَ اَوَّلُ يَوْمٍ خَلَقَ اللهُ مِنَ الدُّنْيَا يَوْمُ عَاشُوْرَاءَ، وَ اَوَّلُ مَطَرٍ نَزَلَ مِنَ السَّمَاءِ يَوْمُ عَاشُوْرَاءَ، و اَوَّلُ رَحْمَةٍ نَزَلَتْ يَوْمُ عَاشُوْرَاءَ، فَمَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَكَاَنَّمَا صَامَ الدَّهْرَ كُلَّهُ، وَ هُوَ صَوْمُ اْلاَنْبِيَاءِ، وَ مَنْ اَحْيَا لَيْلَةَ عَاشُوْرَاءَ فَكَاَنَّمَا عَبَدَ اللهَ تَعَالىَ مِثْلَ عِبَادَةِ اَهْلِ السَّموَاتِ السَّبْعِ، وَ مَنْ صَلَّى اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ يَقْرَأُ فِي كُلّ رَكْعَةٍ اْلحَمْدَ مَرَّةً وَ خَمْسِيْنَ مَرَّةً قُلْ هُوَ اللهُ اَحَدٌ غَفَرَ اللهُ خَمْسِيْنَ عَامًا مَاضٍ وَ خَمْسِيْنَ عَامًا مُسْتَقْبَلٍ وَ بَنَى لَهُ فِي الْمَلإِ اْلاَعْلَى اَلْفَ اَلْفِ مِنْبَرٍ مِنْ نُوْرٍ، وَ مَنْ سَقَى شَرْبَةً مِنْ مَاءٍ فَكَاَنَّمَا لَمْ يَعْصِ اللهَ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَ مَنْ اَشْبَعَ اَهْلَ بَيْتِ مَسَاكِيْنَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ، مَرَّ عَلَى الصّرَاطِ كَاْلبَرْقِ اْلخَاطِفِ. وَ مَنْ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَكَاَنَّمَا لَمْ يَرُدَّ سَائِلاً قَطُّ، وَ مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ لَمْ يَمْرَضْ مَرَضًا اِلاَّ مَرَضَ الْمَوْتِ، وَ مَنِ اكْتَحَلَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ لَمْ تَرْمَدْ عَيْنَيْهِ تِلْكَ السَّنَةِ كُلّهَا، وَ مَنْ اَمَرَّ يَدَهُ عَلَى رَأْسِ يَتِيْمٍ فَكَاَنَّمَا بَرَّ يَتَامَى وَلَدِ آدَمَ كُلَّهُمْ، وَ مَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ اَعْطَى ثَوَابَ عَشْرَةِ اَلْفِ مَلَكٍ، وَ مَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ اَعْطَى ثَوَابَ اَلْفِ حَاجّ وَ مُعْتَمِرٍ، وَ مَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ اَعْطَى ثَوَابَ اَلْفِ شَهِيْدٍ، وَ مَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ كُتِبَ لَهُ اَجْرُ سَبْعِ سَموَاتٍ، وَ فِيْهٍ خَلَقَ اللهُ السَّموَاتِ وَ اْلاَرَضِيْنَ وَاْلجِبَالَ وَاْلبِحَارَ، وَ خَلَقَ اْلعَرْشَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ، وَخَلَقَ اْلقَلَمَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ، وَ خَلَقَ اللَّوْحَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ، وَ خَلَقَ جِبْرِيْلَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ، وَ رَفَعَ عِيْسَى يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ، وَ اَعْطَى سُلَيْمَانَ الْمُلْكَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ، وَ يَوْمُ اْلقِيَامَةِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ، وَ مَنْ عَادَ مَرِيْضًا يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَكَاَنَّمَا عَادَ مَرْضَى وَلَدِ آدَمَ كُلَّهُمْ.

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mewajibkan kepada Bani Israil puasa sehari dalam satu tahun, yaitu pada hari Asyura, yaitu hari yang ke sepuluh di bulan Muharram, maka berpuasalah kalian (ummat Islam) pada hari itu dan berilah kelonggaran nafqah untuk keluarga pada hari itu, karena barangsiapa memberikan kelonggaran nafqah pada keluarganya dari hartanya pada hari Asyura, Allah akan meluaskan rezqinya pada tahun itu.

Maka berpuasalah kalian pada hari itu, karena pada hari itu Allah telah menerima taubatnya Nabi Adam. Pada hari itu Allah mengangkat Nabi Idris ke tempat yang tertinggi. Pada hari itu Allah menyelamatkan Nabi Ibrahim dari api. Pada hari itu Allah Allah mengeluarkan Nabi Nuh dari kapal, Pada hari itu Allah menurunkan Taurat kepada Nabi Musa. Pada hari itu Allah menebusi (mengganti) Nabi Isma’il dari sembelihan. Pada hari itu Allah mengeluarkan Nabi Yusuf dari penjara. Pada hari itu Allah mengembalikan penglihatan Nabi Ya’qub. Pada hari itu Allah menghilangkan bala’ (penderitaan) Nabi Ayyub. Pada hari itu Allah mengeluarkan Nabi Yunus dari perut ikan.

Pada hari itu Allah membelah laut untuk Bani Israil. Pada hari itu Allah mengampuni dosa Nabi Muhammad, yang terdahulu maupun yang akan datang. Pada hari itu Nabi Musa menyeberang laut (Merah). Pada hari itu Allah Ta’aalaa menurunkan taubat kepada kaumnya Nabi Yunus. Maka barangsiapa puasa pada hari itu, akan menjadi kaffarah (penebus dosa) selama empat puluh tahun. Pertamanya hari Allah menciptakan dunia ini adalah hari Asyura. Pertamanya turun hujan dari langit adalah hari Asyura. Pertamanya rahmat turun adalah hari Asyura. Maka barangsiapa puasa Asyura, seolah-olah ia puasa satu tahun penuh. Dan itu adalah puasanya para Nabi.

Barangsiapa yang menghidupkan malam Asyura, seolah-olah ia beribadah kepada Allah Ta’aalaa seperti ibadahnya penghuni langit yang tujuh. Barangsiapa yang shalat empat rekaat, dan setiap rekaat membaca Al-Fatihah satu kali, dan membaca Qul huwalloohu ahad lima puluh kali, maka Allah mengampuni dosanya lima puluh tahun yang lalu dan lima puluh tahun yang akan datang, dan Allah akan membangunkan untuknya satu juta mimbar dari cahaya di tempat yang tertinggi. Barangsiapa memberi minum seteguk air, maka seolah-olah ia tidak pernah berma’shiyat kepada Allah, walaupun sekejap mata. Barangsiapa memberi makan sampai kenyang pada keluarga orang-orang yang miskin pada hari Asyura, ia akan melewati shirath secepat kilat. Barangsiapa bersedekah dengan satu sedekah pada hari 'Asyura', maka seolah-olah ia tidak pernah menolak orang yang meminta. Barangsiapa mandi pada hari 'Asyura', maka ia tidak pernah sakit melainkan sakit ketika akan mati. Barangsiapa yang memakai celak pada hari Asyura maka pada tahun itu pandangan kedua matanya tidak akan kabur. Barangsiapa yang mengusapkan tangannya pada kepala anak yatim, maka seolah-olah ia berbuat baik kepada semua anak yatim anak Adam.

Barangsiapa berpuasa pada hari Asyura maka Allah akan memberi pahala sepuluh ribu malaikat. Barangsiapa berpuasa pada hari Asyura maka Allah akan memberi pahala seribu hajji dan umrah. Barangsiapa puasa pada hari Asyura, maka Allah akan memberi pahala seribu orang yang mati syahid. Barangsiapa berpuasa pada hari Asyura, maka dicatat untuknya pahala (sebesar) tujuh langit. Pada hari itu Allah menciptakan langit, bumi, gunung dan laut. Allah menciptakan Arsy pada hari Asyura, menciptakan qalam (pena) pada hari Asyura, menciptakan Al-Lauhul Mahfudh pada hari Asyura, menciptakan malaikat Jibril pada hari Asyura, mengangkat Nabi Isa pada hari Asyura, memberikan kerajaan kepada Nabi Sulaiman pada hari Asyura. Hari qiyamat akan terjadi pada hari Asyura. Dan barangsiapa menjenguk orang sakit pada hari Asyura, maka seolah-olah ia menjenguk orang-orang yang sakit dari anak Adam semuanya. [Dikutip dari kitab Al-Maudluu’aat oleh Al-Imam Abul Faraj Abdur Rahman bin Aliy bin Al-Jauziy, Al-Qurasyi juz 2, hal. 200,] [hadits ini berstatus Mudhu’ menurut Ibn al-Jauzi yang lahir pada 511 H atau 1117 M. Dan wafat pada 13 Ramadlan 597 H di Baghdad Nanti kita bahas husus biografinya.]

Adapun amalan-amalan yang berjalan di Indonesia misalnya :

-  Melakukan shalat tasbih;
-  Puasa hari Tasu'a dan hari Asyura'
-  Membaca surat ikhlas dengan hitungan tertentu;

Adapun yang berupa kegiatan sosial misalnya :

-  Bersilaturrahim atau berkunjung ke rumah sanak famili;
-  Besedekah kepada fakir miskin;
-  Membuat anggota keluarga merasa gembira dengan diberi hadiah.

Tradisi yang biasa mereka lakukan itu memang termasuk salah satu masalah furu'iyah (cabang-cabang) yang di dalamnya terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama yang timbulnya dikarenkan tidak adanya dalil yang sharih atau nash syar’i yang khusus menjelaskan tentang masalah itu. Namun dalam beberapa dalil syar'i, secara umum lagipula syari'at kita menganjurkan berbuat baik atau memperbanyak amal sholih, baik yang berupa ibadah mahdlah atau ibadah ghairu mahdlah, yang bersifat qauliyah, badaniyah, atau maliyah. Sebagaimana telah di sampaikan AHLISUNNAH WAL JAMA’AH

Perbedaan pendapat antara ulama, bisa kita lihat secara jelas dari berbagai karya kitab-kitab beliau (para ulama kita) dalam kitabnya masing-masing beliau telah memaparkan masalah ini di antaranya :

وَنُقِلَ عَنْ بَعْضِ اْلأَفَاضِلِ أَنَّ اْلأَعْمَالَ فِيْ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ اثْنَا عَشَرَ عَمَلاً: الصَّلاَةُ، وَاْلأَوْلَى أَنْ تَكُوْنَ صَلاَةُ التَّسْبِيْحِ، وَالصَّوْمُ، وَالصَّدَقَةُ، وَالتَّوْسِعَةُ عَلَى الْعِيَالِ وَاْلاِغْتِسَالُ، وَزِيَارَةُ الْعَالِمِ الصَّالِحِ، وَعِيَادَةُ الْمَرِيْضِ، وَمَسْحُ رَأْسِ الْيَتِيْمِ، وَاْلاِكْتِحَالُ، وَتَقْلِيْمُ اْلأَظَافِرِ، وَقِرَاءَةُ سُوْرَةِ اْلإِخْلاَصِ أَلْفَ مَرَّةٍ، وَصِلَةُ الرَّحِمِ.  وَقَدْ وَرَدَتْ اْلأَحَادِيْثُ فِي الصَّوْمِ وَالتَّوْسِعَةِ عَلَى الْعِيَالِ. وَأَمَّا غَيْرُهُمَا فَلَمْ يَرِدْ فِي اْلأَحَادِيْثِ.  وَقَدْ ذَكَرَ إِمَامُ الْمُحَدِّثِيْنَ ابْنُ حَجَرٍ الْعَسْقَلاَنِيِّ فِيْ شَرْحِ الْبُخَارِيْ كَلِمَاتٍ مَنْ قَالَهَا فِيْ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ، وَهِيَ: سُبْحَانَ اللهِ مِلْءُ الْمِيْزَانِ .... إِلى أن قال: وَنَقَلَ سَيِّدِيْ عَلِيْ اْلأَجْهُوْرِيْ أَنَّ مَنْ قَالَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ سَبْعِيْنَ مَرَّةً: حَسْبِيَ اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ، كَفَاهُ اللهُ تَعَالَى شَرَّ ذَلِكَ الْعَامِ.

"Diriwayatkan dari sebagian orang-orang yang mempunyai sifat utama bahwa amalan pada hari asyura' 10 Muharram itu ada dua belas macam, yakni : shalat, -yang afdlol shalat tasbih- puasa, bersedekah, membuat anggota keluarga merasa gembira, mandi, manziarahi orang alim atau orang shalih, menjenguk orang sakit mengusap kepala atau menyantuni anak yatim, memakai celak, memotong kuku, membaca surat al-Ikhlash 1.000 x dan silaturrahim. Mengenai anjuran puasa dan membuat gembira kepada anggota keluarga ada hadits yang menerangkannya. Selain dua hal tersebut tidak ada hadits yang menerangkannya. Imam Ibnu Hajar menyebutkan bahwa barang siapa yang membaca kalimat ini pada hari Asyura', maka hatinya tidak mati, yaitu subhanallah mil'al mizan dan seterusnya. Sayyid Al-Ajhuri meriwayatkan bahwa barang siapa yang membaca hasbiyallah wani'mal wakil, ni'mal maula wa ni'man nashir 70 x pada hari Asyura' maka Allah akan menghindarkan orang tersebut dari keburukan dalam tahun ini.[Lihat kitab Nihayatuz Zain hal. 196]

(أَحَادِيْثُ فَضْلِ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ) ثَبَتَ مِنْهَا أَحَادِيْثُ الصِّيَامِ، فَفِي الْبُخَارِي وَمُسْلِمٍ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ يَوْمُ عَاشُوْرَاءَ تَصُوْمُهُ قُرَيْشٌ فِيْ الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ رَسُوْلُ اللهِ يَصُوْمُهُ فِيْ الْجَاهِلِيَّةِ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِيْنَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ عَاشُوْرَاءَ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ. وَأَمَّا حَدِيْثُ التَّوْسِعَةِ وَلَفْظُهُ: مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ فِيْ سَنَتِهِ كُلِّهَا، فَفِيْهِ خِلاَفٌ.

"(Beberapa hadits tentang keutamaan hari Asyura') Telah tercatat dalam beberapa hadits antara lain tentang puasa (Asyura'). Dalama kitab shahih Bukhari dan Muslim dari A'isah ra, dia berkata : bahwa kaum Quraisy di zaman Jahiliyah berpuasa pada hari Asyura'. Rasulullah SAW. juga berpuasa pada hari itu. Sewaktu beliau hadir atau hijrah ke Madinah masih juga beliau melakukan dan memerintahkan puasa Asyura' tetapi ketika puasa Ramadlan telah diwajibkan, beliau meninggalkannya, barang siapa menghendaki puasa disilahkan berpuasa, dan barang siapa yang menghendaki tidak berpuasa boleh meninggalkannya. (baca hadist selengkapnya) Adapun hadits "tausi'ah" yang lafdznya : barang siapa membuat gembira kepada keluarganya pada hari Asyura', maka Allah akan memberikan kelapangan kepadanya sepanjang tahun. Hadits tersebut masih diperselisihkan oleh para ahli hadits tentang keshahihannya.[Lihat kitab Asnal Mathalib fi Ahaditsa Mukhtalifatil Maratib juz II hal 586]

قَالَ الْعَلاَّمَةُ اْلأَجْهُوْرِيْ: وَلَقَدْ سَأَلْتُ بَعْضَ أَئِمَّةِ الْحَدِيْثِ وَالْفِقْهِ عَنِ الْكُحْلِ، وَطَبْخِ الْحُبُوْبِ، وَلُبْسِ الْجَدِيْدِ، وَإِظْهَارِ السُّرُوْرِ، فَقَالَ: لَمْ يَرِدْ فِيْهِ حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلاَ عَنْ أَحَدٍ مِنَ الصَّحَابَةِ وَلاَ اسْتَحَبَّهُ أَحَدٌ مِنْ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ.

“Imam Ajhuri berkata : sungguh saya telah menanyakan kepada sebagian dari para imam ahli hadits dan ahli fiqih tentang memakai celak, menanak biji-bijian, memakai pakaian yang serba baru dan memperlihatkan kegembiraan, beliau menjawab : mengenai hal itu tidak ada riwayat hadits yang shahih dari Nabi atau salah seorang sahabat dan tidak ada salah seorang pun dari para pemimpin Islam yang menganjurkannya”.[Lihat kitab I'anatut Thalibin juz II hal. 266]

Walaupun demikian, karena sudah menjadi tradisi, pendapat para Ulama itu, maka hal tersebut bisa saja dilestarikan (jangan ditinggalkan), namun dengan catatan : bagi yang melakukannya jangan mempunyai i'tiqod atau beranggapan bahwa yang dilakukan itu merupakan anjuran khusus dari Rasulullah SAW. kecuali beberapa amalan yang memang sudah dinash dalam hadits nabi yang shoheh seperti keutama'an berpuasa Tasu'a dan Asyura. baca hadist shohih selengkapnya disini. Ketentuan ini sesuai dengan keterangan dalam kitab yang di tulis oleh Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki :

جَرَتْ عَادَاتُنَا أَنْ نَجْتَمِعَ لإِحْيَاءِ جُمْلَةٍ مِنَ الْمُنَاسَبَاتِ التَّارِيْخِيَّةِ كَالْمَوْلِدِ النَّبَوِيِّ، وَذِكْرَى اْلإِسْرَاءِ وَالْمِعْرَاجِ، وَلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، وَالْهِجْرَةِ النَّبَوِيَّةِ، وَذِكْرَى نُزُوْلِ الْقُرْآنِ وَذِكْرَى غَزْوَةِ بَدْرٍ. وَفِي اعْتِبَارِنَا أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ عَادِيٌّ لاَ صِلَةَ لَهُ بِالدِّيْنِ، فَلاَ يُوْصَفُ بِأَنَّهُ مَشْرُوْعٌ أَوْ سُنَّةٌ كَمَا أَنَّهُ لَيْسَ مُعَارِضًا لأَصْلٍ مِنْ أُصُوْلِ الدِّيْنِ، لأَنَّ الْخَطَرَ هُوَ فْي اعْتِقَادِ مَشْرُوْعِيَّةِ شَيْءٍ لَيْسَ بِمَشْرُوْعٍ.

"Kita mempunyai tradisi yang sudah berlaku yaitu kita berkumpul untuk perayaan sejumlah hari-hari yang bernilai sejarah, seperti kelahiran nabi, peringatan Isra' Mi'raj, malam NishfuSya'ban, peringatan hijrahnya nabi, malam nuzulul qur'an dan peringatan perang badar. Menurut anggapan kita, perkara semacam itu merupakan suatu tradisi semata tidak ada sangkut pautnya dengan syari'at agama, maka tidak bisa dikatakan bahwa hal tersebut disyari'atkan atau disunnatkan. Namun amalan tadi sama sekali tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama. Karena yang menjadi kekhawatiran itu hanya lah timbulnya anggapan adanya anjuran syari’at terhadap hal-hal yang sebenarnya tidak disyari’atkan. [Lihat kitab Mafahim yajibu An-Tusohha karya Sayyid Muhammad Alawi, hal. 314]





© Post Original & Official®
 █║▌│█│║▌║││█║▌║▌║
Verified Official by Soffah.net

Post a Comment Blogger

Apa opini dari anda?