Keutamaan Puasa Arafah - Soffah.Net

0
Puasa Arafah ini disyariatkan bagi orang-orang yang tidak sedang melaksanakan Hajji. Sedang bagi yang sedang berhajji di Padang Arafah, maka tidak diperkenankan melaksanakannya sebagaimana riwayat di bawah ini :

عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى اَبِى هُرَيْرَةَ فِى بَيْتِهِ فَسَأَلْتُهُ عَنْ صَوْمِ يَوْمَ عَرَفَةَ بِعَرَفَاتٍ، فَقَالَ اَبُوْ هُرَيْرَةَ: نَهَى رَسُوْلُ اللهِ ص عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ بِعَرَفَاتٍ. ابن ماجه 1: 551، رقم: 1732

Dari 'Ikrimah, ia berkata : Saya pernah datang kepada Abu Hurairah di rumahnya, lalu saya bertanya kepadanya tentang puasa hari 'Arafah di 'Arafah, maka jawab Abu Hurairah, "Rasulullah SAW melarang puasa hari Arafah di padang Arafah". [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 551, no. 1732]

عَنْ عُمَيْرٍ مَوْلَى عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ عَنْ اُمّ اْلفَضْلِ بِنْتِ الْحرِثِ اَنَّ نَاسًا تَمَارَوْا عِنْدَهَا يَوْمَ عَرَفَةَ فِى صَوْمِ النَّبِيّ ص، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: هُوَ صَائِمٌ. وَ قَالَ بَعْضُهُمْ: لَيْسَ بِصَائِمٍ. فَاَرْسَلَتْ اِلَيْهِ بِقَدَحِ لَبَنٍ وَ هُوَ وَاقِفٌ عَلَى بَعِيْرِهِ فَشَرِبَهُ. البخارى 2: 248

Dari 'Umair maula 'Abdullah bin 'Abbas, dari Ummul Fadhl binti Harits, bahwasanya orang-orang berbantah di sisinya pada hari 'Arafah tentang puasanya Nabi SAW. Sebagian dari mereka berkata, "Beliau SAW berpuasa". Dan sebagian lainnya berkata, "Beliau SAW tidak berpuasa". Kemudian Ummul Fadhl mengirimkan semangkok susu kepada Nabi SAW, pada waktu itu Nabi SAW sedang wuquf di atas untanya, lalu Nabi SAW meminumnya". [HR. Bukhari juz 2, hal. 248]

عَنْ اَبِى قَتَادَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفّرُ سَنَتَيْنِ مَاضِيَةً وَ مُسْتَقْبَلَةً وَ صَوْمُ عَاشُوْرَاءَ يُكَفّرُ سَنَةً مَاضِيَةً. احمد 8: 261، رقم: 22598

Dari Abu Qatadah ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Puasa pada hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) itu bisa menghapus dosa-dosa dua tahun, yaitu setahun yang lampau dan setahun yang akan datang. Dan puasa 'Asyuraa' (tanggal 10 Muharram) bisa menghapus dosa setahun yang lalu". [HR. Ahmad juz 8, hal. 261, no. 22598]


Lalu Puasa Arafah Menugikuti Negeri Masing-Masing atau Menugikuti Saudi?

Dalam masalah puasa tentu kita terikat dengan waktu, bukan terikat dengan tempat-tempat tertentu ini tang menjadi Ijma’ ulama, yakni puasa harus melalui Rukyatul hilal, baca artikel [Rukyatul Hilal]. Dalam hal ini (puasa) kita terikat oleh tuntunan berikut ini : dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

فَصُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ ثَلَاثِينَ

Maka berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berhari rayalah karena melihatnya, lalu jika kalian terhalang maka ditakarlahlah sampai tiga puluh hari. (HR. Muslim No. 1080, 4)

Sedangkan waktu dimulai dan berakhiranya puasa tiap hari di tiap negeri berdsarkan waktu lokal setempat, baik terbit maupun tenggelamnya matahari. Namun jika ada dua wilayah dibawah satu pemrintahan, kemudian penguasa memerintahkan satu wilayah berpuasa atau berbuka maka wajib bagi negeri satunya untuk mengikuti. Karena permasalahan ini termasuk khilafiyah, sedangkan keputusan hakim menghilangkan khilaf.

Berdasarkan ini maka berpuasalah serta berbuka menurut penduduk negeri kalian dimana kalian sedang berada, sama saja apakah cocok dengan keputusan negeri asal kalian atau tidak.Demikian pula hari arafah, ikutilah negeri dimana kalian berada.

Berikut kami kutipkan juga pendapat ulama wahabi bagaimana mengeluarkan fatwanya dalam menghadapi polemik semacam ini : Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya apabila terjadi perbedaan hari arafah dikarenakan penampakan hilal yang berbeda di negeri yang berbeda,apakah kita berpuasa mengikuti negeri dimana kita tinggal ataukan mengikuti negeri haramain (Saudi Arabia)

Jawaban beliau :

والصواب أنه يختلف باختلاف المطالع ، فمثلا إذا كان الهلال قد رؤي بمكة ، وكان هذا اليوم هو اليوم التاسع ، ورؤي في بلد آخر قبل مكة بيوم وكان يوم عرفة عندهم اليوم العاشر فإنه لا يجوز لهم أن يصوموا هذا اليوم لأنه يوم عيد ، وكذلك لو قدر أنه تأخرت الرؤية عن مكة وكان اليوم التاسع في مكة هو الثامن عندهم ، فإنهم يصومون يوم التاسع عندهم الموافق ليوم العاشر في مكة ، هذا هو القول الراجح ، لأن النبي صلى الله عليه وسلم يقول ( إذا رأيتموه فصوموا وإذا رأيتموه فأفطروا ) وهؤلاء الذين لم ير في جهتهم لم يكونوا يرونه ، وكما أن الناس بالإجماع يعتبرون طلوع الفجر وغروب الشمس في كل منطقة بحسبها ، فكذلك التوقيت الشهري يكون كالتوقيت اليومي . [ مجموع الفتاوى 20 ]

Persoalan ini terjadi perbedaan pendapat dikalangan ahli ilmu, apakah hilal itu satu bagi seluruh dunia ataukah berbeda sesuai perbedaan mathla’. Pandangan yang rajih adalah berbeda berdasar perbedaan mathla’ (dimana hilal itu dilihat di berbagai tempat). Misalnya, jika hilal sudah dapat terlihat di Mekah, dan hari ini adalah hari kesembilan. Kemudian di negeri lain hilal dapat dilihat sehari sebelum nampak di Mekah, maka hari arafah di Mekah adalah hari kesepuluh bagi mereka, maka ini tidak diperbolehkan bagi mereka untuk berpuasa di hari ini, karena hari tersebut adalah hari idul adha bagi mereka.

Atau sebaliknya jika hal ini terjadi dimana mereka melihat bulan sehari setelah Mekah, maka hari kesembilan (Dzulhijah) adalah tanggal 8 Djulhijjah bagi mereka, maka mereka harus berpuasa di tanggal 9 menurut mereka (walaupun bertepatan tanggal 10 bagi Mekah). Inilah pandangan yang rajih karena Nabi shalallahu alaihi wassalam mengatakan :

إذا رأيتموه فصوموا وإذا رأيتموه فأفطروا

Apabila kamu melihat (hilal) berpuasalah, dan (juga) jika kamu melihatnya maka berbukalah”

Maka mereka yang tidak melihat hilal di negerinya maka dia belum melihatnya (sebagaimana hadist diatas). Sebagaimana manusia telah sepakat (ijma) menganggap terbitnya fajar atau terbenamnya matahari itu sesuai daerahnya. Dengan demikian penentuan waktu masuknya bulan sebagaimana penentuan waktu harian (yang berbeda tiap daerah). Ini adalah ijma’ para ulama. Olehkarenanya, penduduk asia timur memulai puasa sebelum penduduk bagian barat.Dan berbuka sebelum mereka. Demikian juga matahari yang terbit dan tenggelam saling berbeda.Untuk yang seperti puasa harian ini berbeda maka begitu juga untuk puasa bulanan maka tentu sama.

Namun jika dua wilayah dalam satu pemerintahan, maka keputusan penguasa untuk berbuka dan berpuasa harus diikuti. Karena ini masalah khilafiyah sedangkan keputusan hakim itu mengangkat khilaf. (Hukmul hakim yarfa’ul khilaf). Berdasar ini maka berpuasa dan berbukalah bersama penduduk dimana kalian sekarang tinggal, entah sama dengan negeri asal kalian atau tidak. Demikian juga puasa arafah, ikuti di negeri dimana kalian tinggal.(Majmu’ fatawa 20).


© Post Original & Official®
 █║▌│█│║▌║││█║▌║▌║
Verified Official by Soffah.net

Post a Comment Blogger

Apa opini dari anda?