Ini Alasan Kenapa Mereka Membeci Ulama - Soffah.Net

0
Sesungguhnya sangat banyak yang membeci dan suka menggunjingkan Ulama selain dari kalangan Ahlisunnah Wal Jama’ah, Memang hanya Ahlissunnah wal Jama’ah yang selalu menjaga persatuan dan kerukun, demikian itu bukan karena bertoleransi masalah Aqidah terhadap Al-Jahil yahudi, Nasrani, dan pengikut-pengikutnya. Hanya saja Ahlissunnah Wal Jama’ah selalu berpegang terhadap prinsip-prinsip kitabullah (Al-Qur’an) dan sunnati Ar-Rasul (Hadist) beserta ketetapan Ijma’ yang di gariskan oleh Ulama Salafussolih. Adapun Etika yang tercantum dalam firman Allah salah satunya :

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَّ لاَ تَفَرَّقُوْا وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَآءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِه اِخْوَانًا، وَ كُنْتُمْ عَلى شَفَا حُفْرَةٍ مّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مّنْهَا، كَذلِكَ يُبَيّنُ اللهُ لَكُمْ ايتِه لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ. ال عمران: 103

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan ni'mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni'mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. [QS. Ali 'Imran : 103]

وَ اِنْ طَآئِفَتَانِ مِنَ اْلمُؤْمِنِيْنَ اقْتَتَلُوْا فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَا، فَاِنْ بَغَتْ اِحْديهُمَا عَلَى اْلاُخْرى فَقَاتِلُوا الَّتِيْ تَبْغِيْ حَتّى تَفِيْءَ اِلى اَمْرِ اللهِ، فَاِنْ فَآءَتْ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَا بِاْلعَدْلِ وَ اَقْسِطُوْا، اِنَّ اللهَ يُحِبُّ اْلمُقْسِطِيْنَ. الحجرات: 9

Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. [QS. Al-Hujurat : 9]

Maka dari itu kenapa Ahlisunnah Wal Jama’ah tidak menyukai tindakan gegabah  dalam mengambil keputusan, baik dari segi mu'amalah, fi’liyah. Semua hal melalui proses peng-kajian yang mendalam sehingga menghasilkan sebuah perkara yang jauh dari mudzorrot. Demikian itu bukan berarti kami membiarkan saudara-saudara kita yang seiman di tindas oleh orang kafir dan di aniaya habis-habisan, sungguh kami sakit hati atas itu semua, kami juga turut merasa sakit atas apa yang di rasakan saudara kita disana.

Namun kita juga tidak bisa bertindak sesuka hati, apalagi mau dikendalikan rasa Emosional, kami menjauhi yang demikian. Sepanik apapun situasi yang melanda Ummat Islam kita harus tetap stabil dalam berpikir. Adapun tuduhan-tuduhan yang mereka lontarkan terhadap Ulama itu hanya akan terkesan betapa sempitnya cara berpikir mereka dalam berpandang. Baiklah mari kami kutipkan beberapa pendapat mereka terkait masalah tuduhan terhadap perjuangan Ulama, disini kami bawa dua pendapat yang di kemukakan dari luar Ahlisunnah Wal Jama’ah yang berkaitan dengan tema “Mengesampingkan Peran Ulama” :

3 Pendapat Yang Mengaku Mujahidin ISIS

(1) Apa jaminan kalian bahwa ulama ulama internasional yang sedang hidup itu adalah orang yang lebih utama disisi Allah dibanding dengan mujahidin lain yg sedang hidup? Apakah pemanggul senjata adalah orang2 bodoh dalam hal pena dibandingkan pemanggul pena semata? stempel ulama itu dari Allah, apalagi ulama kalian semua masih hidup dan sedang diuji sebagaimana semua orang diuji, stempel ulama bukan dari anggapan mayoritas manusia yg saat ini kualitasnya secara mayoritas sangat tercemar pemikiran yg membingungkan dan saling kontradiksi. Mayoritas ulama kebanyakan pemegang tongkat di tengah , sangat suka pada kata2 yang bersayap dalam rangka meninggikan kalimat Allah sebagai satu2nya kalimat yang tertinggi dimuka bumi malah dengan kata2 & tindakan yang tidak jelas terhadap musuh2 Allah. kelompok jihad manapun ketika mereka kecil maka kebanyakan kita sok prihatin akan tetapi ketika mereka membesar, kuat dan menghadapi banyak hasutan dan tudingan2 dari setan maka tiba2 mayoritas kita ketakutan dan benci kepada daulah islam dengan ketakutan & kebencian yang sama dialami oleh orang2 kafir.

Maka silakan tidak setuju daulah islam, Akan tetapi jika kita punya rasa hormat kepada Allah maka jangan lah tindakan kita menguntungkan musuh Allah yg saat ini sedang dilanda kepanikan mghadapi daulah islam. Andaikan daulah islam punya sedikit saja rasa toleran terhadap kekuatan kekafiran global maka tentu saja dunia masih bisa melakukan berbagai trik2 kotor terhadap perjuangan mujahidin melalui berbagai trik2 perundingan dan kerjasama, akan tetapi justru daulah islam benar2 tidak memberi peluang pada sihir2 dunia sehingga dunia kekafiran panik. apakah ulama itu mesti tergopoh2 hadir meredakan panas hati orang2 kafir?
Tanggapan Kami : Yang menjamim bukan kami, tetapi jaminan itu diberikan oleh Allah sendiri melalui Rasulnya sebagaimana dalam riwayat berikut :

والخطيب عن عثمان رضي الله عنه: أوّلُ مَنْ يَشْفَعُ يَوْمَ القِيَامَةِ الأنْبِيَاءُ ثُمَّ العُلَمَاءُ ثُمَّ الشُّهَدَاءُ

Usman RA. berkata: Nabi Muhammad saww. bersabda : “Pertama yang dapat memberikan syafa’atnya para Nabi, kemudian para Ulama’ (orang-orang Ahli Ilmu) kemudian para syuhada (orang-orang yang mati syahid di jalan Allah).” (HR. Al Khatib)

وعن أنس بن مالك أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: مَنْ زَارَ عَالِما فَقَدْ زَارَنِي، وَمَنْ زَارَنِي وَجَبَتْ له شَفَاعَتي، وكانَ لَهُ بِكُلِّ خَطْوَةٍ أَجْرُ شَهِيدٍ

Dari Anas bin Malik ra., bahwasanya Rasulullah bersabda : “Barangsiapa mengunjungi orang alim berarti ia mengunjungi aku, barangsiapa mengunjungi aku maka ia wajib memperoleh syafa’atku, dan setiap langkah mereka memperoleh pahala orang mati syahid.” (Tanqihul Qaul)

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى الصَّنْعَانِيُّ حَدَّثَنَا سَلَمَةُ بْنُ رَجَاءٍ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ جَمِيلٍ حَدَّثَنَا الْقَاسِمُ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ قَالَ ذُكِرَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلَانِ أَحَدُهُمَا عَابِدٌ وَالْآخَرُ عَالِمٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ صَحِيحٌ قَالَ سَمِعْت أَبَا عَمَّارٍ الْحُسَيْنَ بْنَ حُرَيْثٍ الْخُزَاعِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ الْفُضَيْلَ بْنَ عِيَاضٍ يَقُولُ عَالِمٌ عَامِلٌ مُعَلِّمٌ يُدْعَى كَبِيرًا فِي مَلَكُوتِ السَّمَوَاتِ

Abu Umamah Al Bahili ia berkata; “Dua orang disebutkan di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, salah seorang adalah ahli ibadah dan yang lain seorang yang berilmu, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Keutamaan seorang alim dari seorang abid seperti keutamaanku dari orang yang paling rendah di antara kalian, ” kemudian beliau melanjutkan sabdanya: “Sesungguhnya Allah, MalaikatNya serta penduduk langit dan bumi bahkan semut yang ada di dalam sarangnya sampai ikan paus, mereka akan mendoakan untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” Abu Isa berkata; Hadits ini hasan gharib shahih. Perawi berkata; “Aku mendengar Abu ‘Ammar Al Husain bin Huraits Al Khuza’I berkata; Aku mendengar Al Fudlail bin Iyadl berkata; “Seorang alim yang mengamalkan ilmunya dan mengajarkan ilmunya akan dipanggil besar oleh para Malaikat yang ada di langit.” (HR. At tirmidzi No.2609)

Syaikh Nawawi Al-Bantani mengatakan bahwa keistimewaan Ulama digambarkan dalam surat Ali Imran yang menjelaskan bahwa Allah bersaksi atas nama, pertama; diri-Nya, kedua; malaikat dan ketiga; ulul ilmi (Ulama) yang adil.

Seperti yang terjadi, Rasulullah yang selalu mendapat kabar langsung dari Allah Melalui Malaikat Jibril. Beliau memberi kabar kepada kita bahwa posisi Ulama bahkan di atas Suhadak (mati syahid). Dan itupun syahidnya yang niatnya murni karna Allah, tidak tercampur nafsu terlebih rasa riyak.

(2) Pertanyaan di balik. Apakah Ulama dunia sudah Berjihad di Jalan Allah ?, Mungkin ulama dunia sudah jihad dengan lisan dan harta TAPI apakah sudah dengan jiwa2 kalian ??? Padahal amal yg peling utama adalah jihad fii sabilillah

Rasulullah SAW bersabda: Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah SAW ditanya: ”Amal apakah yang paling utama?” Rasul SAW menjawab: ”Beriman kepada Allah”, sahabat berkata:”Lalu apa?” Rasul SAW menjawab: “Jihad fi Sabilillah”, lalu apa?”, Rasul SAW menjawab: Haji mabrur”. (Muttafaqun ‘alaihi)

Padahal banyak sekali keutamaan jihad dan apalagi bisa mati syahid. Pertanyaan terakhir : Apakah ulama Dunia akan tetap diam saja tanpa tindakan terhadap saudara2 kita di GAZA di Suriah di Iraq di Burma di Afrika dan di seluruh dunia yg di Zholimi orang2 Kafir ? Coba kalian berfikir jika negara kita ini Negara Indonesia ini di Jajah Belanda otomatis kita akan berontokkan ? Tak mungkin kita diam saja kan ??

Padahal Indonesia ini tidak akan merdeka tanpa bantuan para mujahidin. Jika kalian peduli dengan Benar2 saudara2 kalian pasti Kalian akan bertindak BUKAN diam dan mengeluarkan statement yg TIDAK penting
Tanggapan Kami : Riwayat ini yang anda sampaikan benar adanya : “Rasulullah SAW bersabda: Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah SAW ditanya: ”Amal apakah yang paling utama?” Rasul SAW menjawab: ”Beriman kepada Allah”, sahabat berkata:”Lalu apa?” Rasul SAW menjawab: “Jihad fi Sabilillah”, lalu apa?”, Rasul SAW menjawab: Haji mabrur”. (Muttafaqun ‘alaihi)”

Tetapi apakah anda tau kapan Hadist itu di ucapkan Rasulullah? Yaitu diucapkan sebelum terjadinya penaklukan kafir Mekkah yang ke’adaan para sahabat kala itu masih minim pencerahan dari Rasulullah, yakni Rasulullah kala itu masih dalam rangka pembentukan atau penyempurna’an aqidah para sahabat. Lalu apakah anda tidak melihat hadist lain?

Seperti riwayat yang kami kemukakan di atas, hadist itu di sampaikan Rasulullah ketika Islam sudah memasuki masa kejaya’an, Aqidah para sahabat sudah mapan seiring banyak-nya khutbah Rasulullah yang di terima dan terekam oleh sahabat. yakni pada riwayat ini :

وعن أنس بن مالك أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: مَنْ زَارَ عَالِما فَقَدْ زَارَنِي، وَمَنْ زَارَنِي وَجَبَتْ له شَفَاعَتي، وكانَ لَهُ بِكُلِّ خَطْوَةٍ أَجْرُ شَهِيدٍ

Dari Anas bin Malik RA., bahwasanya Rasulullah bersabda : “Barangsiapa mengunjungi orang alim (ulama) berarti ia mengunjungi aku, barangsiapa mengunjungi aku maka ia wajib memperoleh syafa’atku, dan setiap langkah mereka memperoleh pahala orang mati syahid.” (Tanqihul Qaul)

Bisa merenungkan yang terkandung dalam riwayat ini? Bila di jadikan perbandingan, Orang yang mati syahid kedudukannya setara dengan orang yang mengunjungi Orang alim (ulama). Ini artinya syuhadak tidak sebanding dengan derajat Ulama, hanya setara dengan orang yang mengunjungi ulama....! Subhanallah,,, begitu mulyanya seorang ulama dalam pandangan Allah. Tetapi perbandingan semcam itu sungguh tidak baik, karena keduanya sama-sama bernilai di hadapan Allah. Oleh karena itu janganlah engkau membuka sebab terjadinya perbandingan seperti itu, bagaimanapun Ulama sangatlah Mulya disisi Allah.

(3) Jika kalian tak mau mendukung khalifah ibrohim bin awwad, Lalu mengapa kalian (Para ‘Ulama) Tidak Segera mewujudkan ke-khalifahan ? Apa lagi yang kalian tunggu wahai pewaris Nabi ? Apa yang menghalangi kalian ? Apakah “AL WAHN” sudah menjangkiti kalian ? http://www.al-hisbah.com/
Tanggapan Kami : Perhatikan kalimat ini “Lalu mengapa kalian (Para ‘Ulama) Tidak Segera mewujudkan ke-khalifahan ?” Dalam pandangan kami ke-khalifahan tidak seperti ke-khalifahan fersi yang anda fahami. Adapun ke-khalifahan seperti yang anda anggap itu telah di finiskan oleh Rasulullah sendiri sebagaimana dalam riwayat berikut :

ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺨﻼﻓﺔ ﻓﻲ ﺃﻣﺘﻲ ﺛﻼﺛﻮﻥ ﺳﻨﺔ ﺛﻢ ﻣﻠﻚ ﺑﻌﺪ ﺫﻟﻚ

Rasulullah SAW bersabda: “Khilafah setelahku berjalan hanya selama tiga puluh tahun, kemudian setelah itu adalah kerajaan".  Dahulu perna kami bahas silahkan baca disini

Marilah kita bahas perlahan-lahan dan bijak agar menemukan titik temu. Kami tidak menyalahkan upaya anda dalam memperjuangkan Islam di depan orang-orang kafir, Namun argumen anda yang menyinggung Ulama  bisa kami pastikan salah total dan fatal. Tetapi meri kita berfikir terbuka  dan tidak saling merobohkan. Kami memaklumi, memang telah ada riwayat seperti ini :

حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ خَلَفٍ أَبُو بِشْرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Telah menceritakan kepada kami Bakr bin Khalaf Abu Bisyr berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul A’la dari Ma’mar dari Zuhri dari Sa’id Ibnul Musayyab dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa dikehendaki Allah untuk mendapat kebaikan, maka Allah akan memberikan pemahaman kepadanya tentang agama.” (HR. Ibnumajah No.216, 217, Bukhori No.69, 2884, 6768, Ahmad No.16243, 16323, Ad Darimi No.226, 227, 228)




© Post Original & Official®
 █║▌│█│║▌║││█║▌║▌║
Verified Official by Soffah.net

Post a Comment Blogger

Apa opini dari anda?