Hidup Hanya Sementara - Soffah.Net

4
Mengapa masih banyak yang lalai? Karena mereka terlalu berpikir sempit, hanya berpikir sebatas pandangannya didunia ini, berangkat dari pemikiran “bagaimana supaya hidup ini sukses” namun sayang sekali yang menjadi tolak ukur mereka hanyalah harta semata, atau hal yang tidak berhubungan dengan akhiratnya sungguh kerugian yang ia dapati walaupun di dunia telah dirasa nikmat. Bukankah telah sampai kabar itu terdap kita? Sebagaimana pentunjuk yang nyata itu salah satunya :

عَنْ قَيْسٍ قَالَ: سَمِعْتُ مُسْتَوْرِدًا اَخَا بَنِى فِهْرٍ يَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: وَ اللهِ، مَا الدُّنْيَا فِى اْلآخِرَةِ اِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ اَحَدُكُمْ اِصْبَعَهُ هٰذِهِ. (وَ اَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ) فِى الْيَمّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ. مسلم 4: 2193

Dari Qais, ia berkata : Aku mendengar Mustaurid saudara dari Bani Fihr berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Demi Allah, tidaklah kehidupan dunia ini jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat, kecuali seperti salah seorang diantara kalian memasukkan jarinya ini ke dalam laut. (Yahya (perawi) sambil menunjukkan jari telunjuknya), maka lihatlah seberapa air yang menetes kembali". [HR. Muslim juz 4, hal. 2193]

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ، وَ اِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَ اُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ، وَ مَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُوْرِ. ال عمران: 185

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari qiyamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. [QS. Ali 'Imraan : 185]

Oleh sebab itu marilah sisa umur dan kesempatan yang masih diberikan oleh Allah, kita gunakan sebaik-baiknya untuk bertaubat kepada Allah dan menambah amal kebaikan untuk bekal hidup kita di ahirat kelak. Rasulullah SAW ketika menasehati seseorang, beliau bersabda :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص لِرَجُلٍ وَ هُوَ يَعِظُهُ: اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ. البيهقى فى شعب الايمان 7: 263، رقم: 10248

Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda kepada seorang laki-laki, pada waktu itu beliau menasehatinya, Gunakanlah lima (kesempatan) sebelum datangnya lima (kesempitan) 1. Gunakan masa mudamu sebelum datang masa tuamu, 2. Gunakan masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, 3. Gunaan masa kayamu sebelum datang masa faqir (miskin)mu, 4. Gunakan masa longgarmu sebelum datang masa sibukmu, 5. Gunakan masa hidupmu sebelum datang kematianmu. [HR. Baihaqiy dalam Syu'abul iimaan juz 7, hal.263, no. 10248]

Dan sebaik-baik orang adalah yang panjang umjurnya dan baik amalnya, sedangkan seburuk-buruk orang adalah yang panjang umurnya, tetapi jelek perbuatannya. Sebagaimana petunjuk yang di dalam hadits disebutkan :

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمٰنِ بْنِ اَبِي بَكْرَةَ عَنْ اَبِيْهِ، اَنَّ رَجُلاً قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ؟، قَالَ: مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَ حَسُنَ عَمَلُهُ، قَالَ: فَاَيُّ النَّاسِ شَرٌّ؟ قَالَ: مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَ سَاءَ عَمَلُهُ. الترمذى 3: 387، رقم: 2432، هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.

Dari 'Abdur Rahman bin Abu Bakrah, dari ayahnya, bahwasanya ada seorang laki-laki bertanya, "Ya Rasulullah, bagaimana orang yang paling baik itu ?". Beliau bersabda, "Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya". Lalu orang tersebut bertanya lagi, "Lalu bagaimana orang yang paling buruk itu ?". Beliau bersabda, "Orang yang panjang umurnya, tetapi jelek amalnya". [HR. Tirmidzi juz 3, hal. 387, no. 2432, dan ia berkata : Ini hadits hasan shahih]

Keni'matan yang diberikan oleh Allah kepada kita di dunia ini, ingatlah saudaraku di akhirat nanti akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah. Allah SWT berfirman :

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِه عِلْمٌ، اِنَّ السَّمْعَ وَ الْبَصَرَ وَ الْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُوْلاً. الاسراء: 36

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. [QS. Al-Israa' : 36]

عَنْ اَبِى بَرْزَةَ اْلاَسْلَمِيّ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا اَفْنَاهُ، وَ عَنْ عِلْمِهِ فِيْمَا فَعَلَ، وَ عَنْ مَالِهِ مِنْ اَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَ فِيْمَا اَنْفَقَهُ، وَ عَنْ جِسْمِهِ فِيْمَا اَبْلاَهُ. الترمذى 4: 36، رقم: 2532، و قال: هذا حديث حسن صحيح

Dari Abu Barzah Al-Aslamiy, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, Tidaklah bergerak kedua tapak kaki seorang hamba (pada hari qiyamat), sehingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia mendapatkannya dan untuk apa ia belanjakan, dan tentang badannya untuk apa ia gunakan. [HR. Tirmidzi juz 4, hal. 36, no. 2532, ia berkata : Ini hadits hasan shahih]

Diriwayatkan bahwa 'Umar bin Khaththab pernah berpidato, dan diantara isi pidatonya itu beliau menganjurkan kepada yang hadir saat itu agar bermuhaasabah.

عَنْ عُمَرَ ابْنِ الْخَطَّابِ اَنَّهُ قَالَ فِى خُطْبَتِهِ: حَاسِبُوْا اَنْفُسَكُمْ قَبْلَ اَنْ تُحَاسَبُوْا، وَزِنُوْا اَنْفُسَكُمْ قَبْلَ اَنْ تُوْزَنُوْا، وَ تَزَيَّنُوْا لِلْعَرَضِ اْلاَكْبَرِ يَوْمَ تُعْرَضُوْنَ لاَ يَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ. ابن ابى شيبة 7: 115، رقم: 34448

Dari 'Umar bin Khaththab, bahwasanya ia berkata di dalam pidatonya, "Hitung-hitunglah diri kalian sebelum (amal) kalian dihitung (oleh Allah), timbang-timbanglah (amal) kalian sebelum (amal) kalian ditimbang (oleh Allah). Dan berhiaslah kalian untuk menyambut pertemuan agung pada hari kamu sekalian dihadapkan (kepada Allah) dan tidak ada sesuatupun dari kalian yang tersembunyi". [HR. ibnu Abi Syaibah juz 7, hal. 115, no. 34448]

Apabila kita enggan untuk mengoreksi diri dan bermuhaasabah, bukan tidak mungkin kita termasuk orang yang paling rugi, sebagaimana firman Allah :

قُلْ هَلْ نُنَبّئُكُمْ بِاْلاَخْسَرِيْنَ اَعْمَالاً(103) الَّذِيْنَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ يُحْسِنُوْنَ صُنْعًا(104) الكهف: 103-104

Katakanlah, "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" (103) Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (104) [QS. Al-Kahfi : 103-104]

Atau bahkan kita termasuk orang yang pailit, sebagaimana disebutkan dalam hadits :

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اَتَدْرُوْنَ مَا الْمُفْلِسُ؟ قَالُوْا: اَلْمُفْلِسُ فِيْنَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَ لاَ مَتَاعَ. فَقَالَ: اِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ اُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ اْلقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَ صِيَامٍ وَ زَكَاةٍ وَ يَأْتِى قَدْ شَتَمَ هٰذَا، وَ قَذَفَ هٰذَا، وَ اَكَلَ مَالَ هٰذَا. وَ سَفَكَ دَمَ هٰذَا، وَ ضَرَبَ هٰذَا؛ فَيُعْطَى هٰذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَ هٰذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَاِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ اَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ اُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ. مسلم 4: 1997

Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Tahukah kalian siapakah orang yang disebut pailit itu ?" Jawab para shahabat, "Orang yang pailit diantara kami ialah orang yang tidak punya dirham dan tidak punya barang-barang". Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya orang yang pailit dari ummatku ialah orang yang datang pada hari qiyamat lengkap dengan membawa (pahala) shalatnya, puasanya dan zakatnya. Tetapi di samping itu ia telah mencaci ini, dan menuduh ini, memakan hartanya ini, dan menumpahkan darahnya ini, dan memukul ini, maka diberikan kepada orang yang dianiaya itu dari (pahala) kebaikan amalnya, dan kepada orang yang lainnya lagi (dari pahala) kebaikan amalnya. Maka apabila telah habis (pahala) kebaikannya itu dan belum terbayar semua tuntutan orang-orang yang pernah dianiaya tersebut, maka diambilkan dari dosa-dosa orang yang telah dianiaya itu dan ditanggungkan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke neraka". [HR. Muslim juz 4, hal 1997]

Hidup di dunia ini hanya sebentar, dan hidup yang haqiqi adalah hidup di akhirat kelak. Allah SWT berfirman :

وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلاَّ لَهْوٌ وَّلَعِبٌ، وَ اِنَّ الدَّارَ اْلاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ. لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ. العنكبوت: 64

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. [QS. Al-'Ankabuut : 64]

Dan ada diriwayatkan, barangsiapa yang sudah berumur 40 tahun, kebaikannya belum bisa mengalahkan keburukannya, maka bersiap-siaplah masuk neraka.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ اَتَى عَلَيْهِ اَرْبَعُوْنَ سَنَةً فَلَمْ يَغْلِبْ خَيْرُهُ شَرَّهُ فَلْيَتَجَهَّزْ اِلَى النَّارِ. الموضوعات 1: 178

Dari Ibnu 'Abbas, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang sudah mencapai umur 40 tahun, kebaikannya belum bisa mengalahkan keburukannya, maka hendaklah ia bersiap-siap masuk neraka". [Al-Maudluu'aat oleh Imam Abul Faraj Abdur Rahman bin 'Aliy bin Al-Jauziy Al-Qurasyiy juz 1, hal. 178, hadits ini sangat dla'if, karena dalam sanadnya ada beberapa perawi yang dla'if, yaitu Robaah bin Ahmad; ia sangat dlaif. Adapun Jarir : para 'ulama hadits meninggalkan haditsnya. Dan Dlohhaak, ia tidak bertemu dengan Ibnu 'Abbas]

Dan Rasulullah SAW berpesan kepada kita supaya bertaqwa kepada Allah di mana saja kita berada.

عَنْ اَبِي ذَرّ قَالَ: قَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ ص: اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَ اَتْبِعِ السَّيّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَ خَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. الترمذى 3: 239، رقم: 2053

Dari Abu Dzarr, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda kepadaku, "Bertaqwalah kamu kepada Allah dimana saja kamu berada, dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan yang baik, niscaya perbuatan yang baik itu akan menghapusnya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlaq yang baik". [HR. Tirmidzi juz 3, hal. 239, no. 2053]

Oleh karena itu marilah sisa umur yang masih diberikan oleh Allah SWT kepada kita ini, kita gunakan untuk meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Alllah, karena hanya dengan iman dan taqwa itulah Allah menjauhkan manusia dari neraka dan memasukkan ke surga. Kita tingkatkan persatuan dan kerukunan sesama muslim, karena sesama muslim adalah bersaudara, dan kita jauhi berbantah, perselisihan, pertengkaran dan perpecahan, karena perpecahan itu akan melemahkan kekuatan kita. Allah SWT berfirman :

وَ اَطِيْعُوا اللهَ وَ رَسُوْلَه وَلاَ تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَ تَذْهَبَ رِيْحُكُمْ وَاصْبِرُوْا، اِنَّ اللهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ. الانفال: 46

Dan tha'atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bershabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang shabar. [QS. AL-Anfaal : 46]

Demikianlah semoga Allah menuntun kita ke jalan yang benar, dan semoga Allah mengampuni kita. Aamiin.


© Post Original & Official®
 █║▌│█│║▌║││█║▌║▌║
Verified Official by Soffah.net

Post a Comment Blogger

  1. coba anda tanya pada orang orang yang sedang antri.. tentu saja jawabanya hidup ini lama...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak ada orang yang antri dalam hal ini, hal misterius dan sangat di rahasiakan Allah, ini nemuntun kita untuk supaya memperbagus dalam amal, dalam do’a sekalipun yang wajar adalah meminta untuk diberi panjang umur. Menunggu antrian? Apa sudah merasa cukup amalnya? Atau merasa di tunggu surga karna Jihadnya? Itu bukan jaminan... mengingat dalam sebuah niat tidak luput oleh bisikan-bisikan setan.

      Apakah mau berbicara dari segi haqiqot? Jihad (siap mati) apabila di sebut menunggu giliran, tetapi dalam hati tertancap rasa ingin mendapat surga, maka bisa di panstikan niatnya masih tidak bersih. menunggu giliran karena merasa bekalnya cukup untuk akhiratnya, bisa di pastikan niatnya keruh. Lalu apanya yang di andalkan sehingga begitu konyol-nya menunggu mati? Oleh kerena itu ikutilah Ulama salafussolih biar selamat.

      Tidak ada seorang-pun jikalau masih normal menginginkan kematian, Bahkan Rasulullah sendiri mengatakan sa’at sakarotul maut itu sa’at-sa’at yang sakit dan ulama salaf-pun menyepakatinya oleh karena itu kematian itu tidaklah di sukai, Namun juga tidak bisa di hindari. Suatu ketika, Syuraih bin Hani’ -salah seorang tabi’in- mendengar sebuah hadits dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Siapa senang berjumpa dengan Allah, maka Allah pun senang berjumpa dengannya. Dan siapa tidak senang berjumpa dengan Allah maka Allah pun tidak senang berjumpa dengannya”. Usai mendengarnya, ia bergegas menemui Ummul Mukminin ‘Aisyah ra seraya mengatakan: “Wahai Ummul Mukminin, aku mendengar sebuah hadits dari Abu Hurairah, yang jika benar demikian berarti kita semua celaka!”

      “Orang celaka ialah yang celaka karena sabda Rasulullah, ada apa memangnya?” sahut Ummul Mukminin. Rasulullah saw bersabda: “Siapa senang berjumpa dengan Allah, maka Allah pun senang berjumpa dengannya. Dan siapa tidak senang berjumpa dengan Allah maka Allah pun tidak senang berjumpa dengannya, padahal tidak seorang pun dari kita melainkan benci terhadap kematian…!” ungkap Syuraih. Maka Ummul Mukminin menjawab: “Sungguh Rasulullah saw memang mengatakan seperti itu, namun bukan seperti yang kau fahami… hal itu ialah saat mata terbelalak, dada terasa sesak, kulit merinding dan jari-jemari kaku… saat itulah siapa yang senang berjumpa dengan Allah, maka Allah pun senang berjumpa dengannya. Dan siapa yang tidak senang berjumpa dengan Allah maka Allah pun tidak senang berjumpa dengannya”.(HR. Muslim no: 2685)

      Jaminan dari siapa anda, sa’at anda sakarotul maut anda akan di perlihatkan surga? Sehingga anda merindukan dan menunggu antrian untuk untuk pengen segera mati? Tidak di tunggu sekalipun maut tetap akan menghampiri kita bila sudah sa’atnya. Mengapa kita harus repot-repot menunggu antrian?

      Delete
    2. [Anonimus] Santai saja, biarkan [don16051xxx] mencurahkan perasa'annya. ada pelajaran berharga untuk kita, dahulu Imam Syafi’i tatkala Beliau mengadukan tentang buruknya hafalan Beliau kepada Imam Waki’ bin Jarrah, Beliau mengatakan :

      شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِيْ فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ المَعَاصِي

      وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ العِلْمَ نُوْرٌ وَنُوْرُ اللهِ لَا يُؤْتَى لِعَاصِي

      Aku mengadukan kepada Waki’ keburukan hafalanku, Lalu Beliau membimbing aku untuk meninggalkan maksiat, Beliau mengabarkan kepadaku bahwa ilmu itu adalah cahaya, Dan cahaya Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat.

      Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

      إِنَّ اللَّهَ عز وجل خَلَقَ خَلْقَهُ في ظُلْمَةٍ فَأَلْقَى عليهم من نُورِهِ فَمَنْ أَصَابَهُ من ذلك النُّورِ اهْتَدَى وَمَنْ أَخْطَأَهُ ضَلَّ

      “Sesungguhnya Allah Azza Wajalla menciptaan makhluk-Nya dalam kegelapan, Lalu Allah memberikan kepada mereka dari cahaya-Nya, maka siapa yang mendapatkan cahaya tersebut, maka dia mendapatkan hidayah, dan siapa yang tidak mendapatkannya maka dia tersesat.”(HR. Ahmad (2/176), Tirmidzi,no:2642, Ibnu Hibban (6169),Al-Hakim dalam mustadrak (1/84).

      Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar tatkala menjelaskan hadits Muawiyah yang telah disebutkan diatas:

      لأن من لم يعرف أمور دينه لا يكون فقيها ولا طالب فقه فيصح أن يوصف بأنه ما أريد به الخير وفي ذلك بيان ظاهر لفضل العلماء على سائر الناس ولفضل التفقه في الدين على سائر العلوم

      “Sebab orang yang tidak memahami perkara agamanya, dia bukanlah seorang yang faqih dan bukan pula seorang yang menuntut ilmu, sehingga tepat jika ia disifati sebagai orang yang tidak dikehendaki kebaikan untuknya. Ini merupakan penjelasan yang terang yang menunjukkan keutamaan para ulama dibanding seluruh manusia, dan menunjukkan keutamaan mendalami agama dibanding ilmu- ilmu lainnya.”(Fathul bari,Ibnu Hajar Al-Asqalani: 1/165)

      Delete
  2. [don16051xxx] Bantu saya untuk mengetahui siapa yang sedang antri, supaya saya bisa bertanya... Trimaksih

    ReplyDelete

Apa opini dari anda?