Fatwa 'perkosa istri' dari ulama Salafi Mesir - Soffah.Net

0
Ulama Salafi Wahabi Kebingungan. Mengapa hal ini bisa terjadi?  Sesungguhnya tidak ada Ulama yang bingung kalau berjalan di atas hukum Allah, yang menggunakan metode standar Ahlisunnah wal Jama’ah. Sungguh tidak cukup hanya berpedoman dan menisbatkan diri terhadap Ahlisunnah saja tetapi tidak mau dengan Jama’ah. Maka hal demikian akan menimbulkan kebingungan terhadap dirinya sendiri maupun orang yang mengikutinya. Kebingungan ini bisa di buktikan dari kebanyakan masalah yang mereka alami sendiri. Salah satunya seperti contoh : (Fatwa 'perkosa istri' dari ulama Salafi Mesir) kami kutip secara utuh biar jelas. Seperti berikut :

Ulama Mesir dan Wakil Presiden Al-Da'wa Al-Salafiya (Panggilan Salafi), Yasser Burhami, telah memicu kontroversi setelah mengeluarkan fatwa terbaru yang memungkinkan pria untuk membiarkan istri mereka diperkosa jika mereka takut hidup mereka terancam.

Sementara dalam fatwa lainnya, Burhami dengan nyata menggambarkan bagaimana seorang pria harus benar-benar melihat istrinya telah melakukan hubungan seksual dengan pria lain sehingga dia dapat mengklaim sebagai kasus perzinahan dan karena itu sang suami berhak untuk membunuh istrinya, seperti dilansir stasiun televisi Al Arabiya, Jumat (25/4) lalu.

Burhami menerbitkan fatwanya itu di situs Anasalafy.com, yang dikaitkan dengan gerakan Panggilan Salafi, sayap spritual dari Partai Al-Nur Mesir. Dia menjelaskan memungkinkan seorang istri untuk diperkosa sama saja seperti kerampokan uang. "Dalam hal ini sang suami terpaksa (untuk menyerahkan istrinya) dan tidak berkewajiban (untuk membela istrinya)," kata dia.

Fatwa itu langsung mendapat kecaman di Mesir dan menimbulkan protes di media sosial. Assaeed Mohammad Ali, seorang pejabat di Kementerian Agama Mesir, mengatakan kepada koran Al-Masry Al-Youm bahwa fatwa Burhami tidak memiliki dasar baik itu dalam syariah Islam atau hukum negara pada umumnya. "Setiap muslim harus melindungi kehormatannya bahkan jika itu harus membawa mereka ke penjara atau pada kematian. Pengorbanan untuk melindungi kehormatan seorang istri adalah kewajiban agama," dia menjelaskan.

Fatwa kontroversial Burhami juga memicu kritikan dari para cendekiawan di Universitas al-Azhar, salah satu pusat utama pendidikan sastra Arab dan pengkajian Islam Sunni di dunia. Syekh Ali Abu al-Hasan, mantan kepala komite fatwa Al-Azhar, yang dikutip oleh situs Elaph, mengatakan fatwa Burhami tidak mendasar pada syariah Islam dan melindungi kehormatan seorang wanita adalah kewajiban seorang suami dan keluarganya.

Mohammad al-Shahat al-Jundi, seorang anggota Dewan Penelitian Islam, juga mengkritik fatwa Burhami dan mengatakan hal itu tidak mendasar pada setiap patokan yang dapat diandalkan. Tetapi Syekh Ali Hatem, seorang juru bicara untuk Dewan Pemerintahan dari Panggilan Salafi, membela koleganya itu dan menuduh penyusup tidak disebutkan namanya telah mencoba untuk menciptakan krisis dan menimbulkan masalah.

Dia mengatakan pertanyaan-pertanyaan yang diminta terkait fatwa itu seperti sebuah 'perangkap'. "Syekh Burhami menekankan kewajiban untuk membela kehormatan. Tetapi jika suami tertentu tidak mampu mempertahankan dirinya, sehingga dia bisa mati dan kehormatan istrinya akan membahayakan, apa yang bisa dia lakukan? Dia diperbolehkan untuk memilih antara mengorbankan kehormatan istrinya atau melindungi hidupnya," ujar dia, dalam pernyataan yang dikutip oleh Al-Masry Al-Youm.

Fatwa aneh lainnya yang mengatakan bahwa berdasarkan agama seorang muslim dapat membunuh istrinya jika dia ketahuan tertangkap melakukan hubungan seksual dengan pria lain, juga membuat Burhami mendapat gelombang kritikan lainnya. Anggota Dewan Penelitian Islam Mesir, Al-Jundi, juga mengecam fatwa itu dan mengatakan semua klaim perzinahan harus dibawa ke pengadilan dan pembunuhan bukan sebuah bentuk dari hukuman dalam kasus terbukti perzinahan.

"Dalam kasus perzinahan, seorang suami tidak dapat melanggar hukum dan mendapatkan hak-hak mereka dengan cara memperlihatkan kekuatan dari lengan mereka," ucap Al-Jundi kepada situs Youm7. Burhami, yang merupakan seorang ulama garis keras, membuat pernyataan itu dalam menanggapi pertanyaan yang diajukan di websitenya.

Dua hari lalu, Kementerian Agama Mesir melarang ulama Salafi itu dalam memberikan khotbah di setiap masjid di Mesir, meski mereka beralasan larangan itu dikeluarkan lantaran Burhami bukan lulusan Al-Azhar.
Note : Kami kutip dengan lengkap memungkinkan tidak terjadinya kesalahan dalam informasi bisa langsung di kunjungi [http://www.merdeka.com/dunia/fatwa-perkosa-istri-dari-ulama-salafi-mesir-timbulkan-kecaman.html] Untuk keafsahan informasi.
Mengapa hal itu terjadi? Faktor utamanya adalah mereka selalu akan ber-Ijtihad sendiri dalam menetukan sebuah hukum syara’ padahal mereka belum, bahkan sangat jauh dari kriteria menjadi mujtahid. Anda bisa pelajari Syarat-syarat Ijtihad disini. Maka dari itu Ahlisunnah Wal Jama’ah dalam memutuskan sebuah hukum selalu di adakan sebuah Bahstul Masa’il, inilah yang di maksud berkompetisi (musyawarah) dalam keilmuan, dari situ akan terlihat kapasitas keilmuan seseorang yang di saksikan oleh banyak orang. Jadi tidak ada dari kalangan Ahlisunnah Wal Jama’ah yang belajar sendiri tanpa bimbingan Ulama, semuanya di proses sejak dini (usia kecil) sudah menekuni Ilmu Agama (syar’i).

Dari kalangan Ahlisunnah Wal Jama’ah tidak ada yang mengaku diri Allamah (alim) kecuali orang lain yang mengatakan. Hal ini menjadi kebalikan Ulama salafi yang tanpa adanya kompetisi (musyawarah) dalam keilmuan, tiba-tiba muncul merasa dirinya pintar dan merasa ber_Ilmu. Alhasil fatwa yang ia keluarkan menjadi ngawor asal jeplak dan dikendalikan hawa nafsunya. Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” [An-Nahl : 43, Al-Anbiya' : 7]

Abdullah bin Mubarak (seorang ulama’ Hadis dari Khurasan) pernah berkata : “Jika Allah s.w.t. tidak membantu saya dengan perantaraan Abu Hanifah dan Sufyan (dua ulama’ Fiqh), nescaya aku sama saja seperti orang awam (yang tidak memahami Hadis-hadis Nabi (sallallahu’alaihi wasallam) “.[“Tibyiidh As-Shohafiyyah” m/s 16]

Sufyan bin ‘Uyainah pernah berkata : “Orang yang pertama membantu saya dalam memahami hadis dan menjadikan saya seorang ahli Hadis ialah Imam Abu Hanifah (seorang ulama’ fiqh)”[“Jawahir Al-Mudhiyah” jilid 1 m/s 31]

Abdulla bin Wahb (seorang ahli hadis juga sahabat Imam Malik) juga pernah berkata: “saya telah berjumpa dengan tiga ratus enam puluh ulama’, (bagi saya) tanpa Imam Malik dan Imam Laits (ulama’-ulama’ Fiqh), nescaya saya akan tersesat dalam ilmu.” Beliau juga diriwayatkan pernah berkata: “Kami mengikuti empat orang ini dalam ilmu, duanya di Mesir dan dua orang lagi di Madinah. Imam Al-Laith bin Sa’ad dan Amr bin Al-Harith di Mesir, dan dua orang lagi di Madinah ialah Imam Malik dan Al-Majishun. Jika tidak kerana mereka, nescaya kami akan tersesat.” [Ibn Hibban, muqoddimah Kitab “Al-Majruhin”]



© Post Original & Official®
 █║▌│█│║▌║││█║▌║▌║
Verified Official by Soffah.net

Post a Comment Blogger

Apa opini dari anda?