1 Suro Adalah Hari Keramat - Soffah.Net

0
Suro adalah nama penanggalan Jawa yang berasal dari penanggalan Hijriyah, yaitu pada bulan Asyuro’. Pengenalan Asyuro’ kepada masyarakat Jawa di takhfif (di ringankan dalam menyebut ) supaya masyarakat Jawa tidak mengasingkan dengan pengenalan bulan Hijriyah tersebut yakni Asyuro’ di sebut hanya dengan kata Suro, pada dasarnya memiliki nilai yang sama dalam ma’nawi.

Adapun Keramat ini Istilah Jawa yang sesungguhnya di ambil dari kata “Mukarroh” bermakna Mengagungkan atau Memulyakan, dengan kata lain bulan penuh “Karomah” yang di maknai dengan penuh kemulya’an. Hanya saja dalam tulisan bahasa Indonesia tidak bisa menyempurnakan baca’an-baca’an yang berasal dari text Arab sehingga terlihat seperti asing di denar, seperti “Mukarromah” di tulis menjadi “Mukarramah” . Sehingga terjadinya transmisi dari kalimat “Karomah” menjadi “Karamah”. Sebagaimana rakyat Indonesia masih baru diperkenalkan dengan Islam jadi maklum lidahnya masih kaku.

Alhasil penulisan “Karamah” ketika disampaikan dan di sebutkan secara lisan Jawa menjadi “Kramah” yang memang kebiasa’an orang sangat enggan dalam penyebutan kata yang sedikit tidak simpel. Walhasil kata “Kramah” menjadi “Kramat”. Transmisi kata seperti ini sangat banyak di negara kita seperti contoh lain kata ”Hikmah” menjadi “Hikmat”. Dan masih banyak contoh lain, adapun pemicu terjadinya transit kata ini bermuara pada Huruf terahir antara (Ha’) marbuth dan (Ta’) marbuth. Nanti kita bahas di tema lain, (Antara Tajwid dan Sastra Bahasa) karena akan sangat panjang penjelasannya.

Kembali pada Suro Adalah Hari Keramat. Pada dasarnya pema’nahan dan kandungan pada kalimat “Suro” dan “Kramat” yang sudah kami jelaskan di atas, ini sama sekali tidak menyalahi syari’at Islam justru ini yang sesuai dengan syari’at Islam. Adapun amaliyah-amaliyah di masing-masing daerah dalam beramal itu memang berbeda, sebagaimana Allah memang menciptakan manusia berbangsa-bangsa supaya mengenal satu sama lain. Dengan catatan amaliyah tersebut tidak menyalai syari’at Islam.


Asas-asas Kramat atau Mukarromah Atau Karomah Suro

Kalimat Kramat pada bulan Suro ini janganlah di jadikan bahan Olok-olokan olehmu karena sumber hukumnya adalah Al-Qur’an dan Hadist. Bukan-kah Allah memang meng-kramat-kan (memulyakan) bulan Haram? Sebagaimana dalam firmannya :

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu” [At-Taubah : 36]

Sedangkan bulan Harom itu yang meliputi Asyuro’ atau Suro, yang Allah pun telah memulyakan bulan tersebut, Sehingga Rasulullah-pun meng-agungkan atau meng-kramatkan sehingga memerihkan sahabat untuk berpuasa. Imam Ath-Thabari menjelaskan : “Bulan empat itu adalah Rojab, dan tiga bulan berurutan, yaitu Dulqqo’dah, Dzulhijjah dan Muharrom. Dengan ini nyatalah khabar-khabar yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

Kemudian At-Thabari meriwayatkan beberapa hadits, diantaranya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya : Wahai manusia, sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana keadaan ketika Allah menciptakan langit dan bumi, dan sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ada dua belas bulan, diantaranya terdapat empat bulan harom, pertamanya adalah Rojab, terletak antara Jumadal (akhir) dan Sya’ban, kemudian Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharrom” Dan ini merupakan pernyataan mayoritas ahli tafsir [Jami’ul Bayan 10/124-125].


Perhatikan hadist berikut ini pada keutamaan Puasa Asyura’ atau puasa Suro

عَن ابْنَ عَبَاسٍ رَضِي اللّه عَنْهُمَا وسُئِلَ عَنْ صِيَامِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا عَلِمْتُ أَنَّ رَسُولُ اللّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَامَ يَوْمَا يَطْلُبُ فَضْلَهُ عَلَى الاًيا مِ إِلاّ هَذَا الْيَوْم وَلاَ شَهْرًا إِلاَّ هَذَا الشَّهْرَ يَعْنِي رَمَضَانَ

Ibnu Abbas Radhiyalahu anhu ditanya tentang puasa Asyuro, jawabnya : “Saya tidak mengetahui bahwa Rasulullah puasa pada hari yang paling dicari fadhilah (keutamaannya) selain hari ini (Asyura) atau (Suro) dan bulan Romadlon” [Hadits Riwayat Bukhari 1902, Muslim 1132]

Pada bulan Muharrom ini terdapat hari yang pada hari itu terjadi peristiwa yang besar dan pertolongan yang nyata, menangnya kebenaran mengalahkan kebathilan, dimana Allah telah menyelamatkan Musa ‘Alaihis sallam dan kaumnya dan menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya. Hari tersebut (Asyuro’ atau Suro) mempunyai keutamaan yang agung dan kemuliaan yang kekal sejak dulu. Dia adalah hari kesepuluh yang dinamakan Asyura. [Durusun ‘Aamun, Abdul Malik Al-Qasim, hal.10]. Namun dalam masalah ini ulama berselisih. Selain ada yang berpendapat seperti diatas,

Seperti dikemukakan Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 4 hal. 772. Hanya saja hadits tersebut di dhoifkan oleh beberapa ulama seperti Imam Syaukani dalam Nailul Author 2 hal. 552. Kata beliau : “Riwayat Ahmad ini dho’if mungkar, diriwayatkan dari jalan Dawud bin Ali dari bapaknya, dari kakeknya. Ibnu Abi Laila juga meriwayatkan dari Dawud bin Ali ini” Al-Mubarok menukil perkataan Imam Syaukani ini dalam Tuhfatul Ahwadzi 3 hal. 383. Sebagaimana kemaren telah kami angkat secara lengkap hadistnya pada catatan Memperingati Asyura’ dalam pandangan ASWAJA. Al-Albani mendho’ifkannya dalam ta’liq Shahih Ibnu Khuzaimah yang dinukil oleh Syaikh Muhammad Musthofa Al-Adzami dalam tahqiq Shahih Ibnu Khuzaimah juz 3 hal.290.

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di juga menanggapi atas pendapat yang mengatakan bahwa Asyuro’ atau Suro tidak ada keutama’annya, dalam Al-Qoulus Sadid beliau mengatakan : “Pencelaan kepada masa seperti ini Asyuro’ atau Suro banyak terjadi pada masa jahiliyah. Kemudian diikuti oleh orang-orang fasik, gila dan bodoh. Jika perputaran masa berlangsung tidak sesuai dengan harapan mereka mulailah mereka mencelanya, dan menuduh bid’ah bahkan tidak jarang melaknatnya. Semua ini timbul karena tipisnya agama mereka dan karena parahnya kedunguan dan kebodohan. Dikarenakan masa itu tidak mempunyai peranan apa-apa dalam menentuka nasib. Sebaliknya, justru masa itulah yang diatur. Kejadin-kejadian yang terjadi dalam rentang waktu, merupakan pengaturan Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Oleh karena itu jika masa seperti ini (kemulya’an Asyuro’ atau Suro) dicerca berarti mencaci pengaturnya” [Al-Qoulus Sadid hal. 146]

Bersambung....



© Post Original & Official®
 █║▌│█│║▌║││█║▌║▌║
Verified Official by Soffah.net

Post a Comment Blogger

Apa opini dari anda?