Mengapa Harus Ngotot Dengan Kata Khalifah? - Soffah.Net

0
Di dunia Muslim yang sejauh ini masih sangat memanas dalam pantau-an kami yaitu issu mengenai penegakan khalifah yang ternyata pola pemahaman-nya sangatlah ricuh dan keluar dari etika syar’i demikian juga yang telah di teriak-teriakkan HTI kini telah diproklamirkan ISIS yang di mufakati bersama kebengisan-nya, ribuan Muslim yang menjadi korban akibat biadabnya ISIS ini, mereka membunuh Ummat Muslim dengan menunggagi kata “khalifah” sungguh ini adalah kebodohan yang nyata, padahal gelar Khalifah sudah tidak dipakai setelah Abubakar seperti yang di tegaskan oleh Mufti al-Azhar asy-Syarif, Syaikh Jad al-Haq Ali (1982), dalam fatwanya menyatakan :

ﺍﻟْﺨِﻠَﺎﻓَﺔُ ﺍﺳْﻢُ ﻣَﺼْﺪَﺭٍ ﻣِﻦِ ﺍﺳْﺘَﺨْﻠَﻒَ، ﻭَﺍﻟْﻤَﺼْﺪَﺭُ ﺍﻟْﺎِﺳْﺘِﺨْﻠًﺎﻑُ، ﻭَﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﻤَﻌْﻨَﻰ ﺩَﺧَﻞَ ﻓِﻰ ﺍﻟْﺎِﺻْﻄِﻠَﺎﺡِ ﺍﻟﺸَّﺮْﻋِﻰ ﻓِﻰ ﺍﺳْﻢِ ﺍﻟْﺨَﻠِﻴْﻔَﺔِ ﻭَﻣَﻬَﻤَّﺘِﻪِ ﻓَﻘَﻂْ ﺍِﺻْﻄَﻠَﺢَ ﻋُﻠَﻤَﺎﺀُ ﺍﻟﺸَّﺮِﻳْﻌَﺔِ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻥَّ ﺍﻟْﺨَﻠِﻴْﻔَﺔَ ﻧَﺎﺋِﺐٌ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻡِ ﻓِﻰ ﺳِﻴَﺎﺳَﺔِ ﺍﻟْﺄُﻣَّﺔِ ﻭَﺗَﻨْﻔِﻴْﺬِ ﺍﻟْﺄَﺣْﻜَﺎﻡِ، ﻭَﻗَﺪْ ﺗَﻮَﻗَّﻒَ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟﻠَّﻘَﺐُ ﺑَﻌْﺪَ ﻭَﻓَﺎﺓِ ﺃَﺑِﻰ ﺑَﻜْﺮٍ ﺭَﺿِﻰَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻪُ، ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﻠَﻘَّﺐْ ﺑِﺨَﻠِﻴْﻔَﺔِ ﺭَﺳُﻮْﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﺣَﺪٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺨُﻠَﻔَﺎﺀِ ﺑَﻌْﺪَﻩُ، ﻭَﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺃُﻃْﻠِﻖَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺍﺳْﻢُ ﺃَﻣِﻴْﺮِ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴْﻦَ، ﻭَﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟْﺈِﻣَﺎﺭَﺓُ ﺍِﺻْﻄِﻠَﺎﺡٌ ﻟَﻴْﺲَ ﻣِﻦْ ﺭَﺳْﻢِ ﺍﻟﺪِّﻳْﻦِ ﻭَﻟَﺎ ﻣِﻦْ ﺣُﻜْﻤِﻪِ ﻓَﻠْﻨُﺴَﻢِّ ﺍﻟْﺤَﺎﻛِﻢَ ﻭَﺍﻟِﻴًﺎ ﺃَﻭْ ﺭَﺋِﻴْﺲَ ﺟُﻤْﻬُﻮْﺭِﻳَّﺔٍ ﺃَﻭْ ﻏَﻴْﺮَ ﻫَﺬَﺍ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺄَﺳْﻤَﺎﺀِ ﺍﻟَّﺘِﻰ ﻳُﺼْﻄَﻠَﺢُ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ، ﺇِﺫْ ﻟَﺎ ﻣَﺸَﺎﺣَّﺔَ ﻓِﻰ ﺍﻟْﺎِﺻْﻄِﻠَﺎﺡِ . ﻓَﻤَﺎﻟِﻬَﺆُﻟَﺎﺀِ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡِ ﻟَﺎ ﻳَﻜَﺎﺩُﻭْﻥَ ﻳَﻔْﻘَﻬُﻮْﻥَ ﺣَﺪِﻳْﺜًﺎ . ﺃَﻳُﺮِﻳْﺪُﻭْﻥَ ﺇِﻃْﻠَﺎﻕَ ﺍﺳْﻢِ ﺧَﻠِﻴْﻔَﺔِ ﺭَﺳُﻮْﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﻦْ ﻳُﺤْﺴِﻦُ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻡَ ﺑِﺄَﻣْﺮِ ﺍﻟﺪِّﻳْﻦِ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﺨَﺎﻟِﻔُﻪُ، ﻛَﺎﻥَ ﺃَﻭْﻟَﻰ ﺑِﻬَﺬَﺍ ﻋُﻤَﺮُ ﺑْﻦُ ﺍﻟْﺨَﻄَّﺎﺏِ ﻭَﺃَﻣْﺜَﺎﻟُﻪُ، ﻭَﻫُﻢْ ﻗَﺪْ ﺭَﺃَﻭْﺍ ﺃَﻧَّﻬُﻢْ ﺃَﻗَﻞُّ ﻣِﻦْ ﺃَﻥْ ﻳَﺤْﻤِﻠُﻮْﺍ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟﻠَّﻘَﺐَ ﻓَﺎﺳْﺘَﺒْﺪَﻟُﻮْﻩُ ﺑِﺄَﻣِﻴْﺮِ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴْﻦَ ﻟَﻘْﺒًﺎ ﻟِﻠْﺤَﺎﻛِﻢِ ﻟَﺎ ﻏَﻴْﺮُ (ﻓﺘﺎﻭﻯ ﺍﻷﺯﻫﺮ – ﺝ 7 / ﺹ 359

Kalimat Khilafah adalah isim mashdar dari kata kerja Istakhlafa (menggantikan). Makna ini masuk dalam istilah syariat dalam nama khalifah dan kepentingannya saja. Ulama fikih membuat istilah bahwa khalifah adalah pimpinan dalam mengurus politik umat dan penerapan hukum. Gelar khalifah ini berhenti setelah wafatnya Abu Bakar, dan tidak ada seorangpun setelah Abu Bakar yang diberi gelar Pengganti Rasulullah (Khalifah). Mereka diberi nama Amirul Mukminin (Pemimpin orang-orang beriman). Istilah ini bukan bagian dari terminologi dan hukum agama. Maka kita boleh memberi nama seorang Pemimpin dengan nama wali, presiden dan nama-nama lainnya, Tidak ada yang perlu dipersulit dalam istilah.

Maka, mengapa orang-orang itu hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun? Apakah mereka (yang mengusung khilafah) menginginkan penyebutan nama Khalifah (pengganti Rasulullah) disematkan kepada orang yang kredible dalam mengurus urusan agama dan kepada orang yang sebaliknya? Sungguh yang lebih berhak dengan nama ini (Khalifah) adalah Umar bin Khattab dan yang sepadan. Namun, sungguh mereka merasa kecil untuk menyandang gelar ini. Maka mereka mengganti nama Khalifah dengan nama Amirul Mukminin sebagai gelar bagi pemimpin, bukan yang lain. (Fatawa al-Azhar 7/359).

Adapun Syaikh Jad al-Haq Ali ini tidak mengeluarkan fatwa dengan sembarangan beliau telah menyandarkan pendapatnya itu kepada Al-lmam al-Qalqasyandi (756-821 H/1355-1418 M) yang berkata dalam kitab-nya :

ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻟﻰ ﻛﺮﺍﻫﺔ ﺇﻃﻼﻕ ﺍﺳﻢ ﺍﻟﺨﻠﻴﻔﺔ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺑﻦ ﻋﻠﻰ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﻓﻴﻤﺎ ﺣﻜﺎﻩ ﺍﻟﻨﺤﺎﺱ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻣﺤﺘﺠﻴﻦ ﺑﻤﺎ ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ﻭﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺳﻔﻴﻨﺔ ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺨﻼﻓﺔ ﻓﻲ ﺃﻣﺘﻲ ﺛﻼﺛﻮﻥ ﺳﻨﺔ ﺛﻢ ﻣﻠﻚ ﺑﻌﺪ ﺫﻟﻚ ﻗﺎﻝ ﺳﻌﻴﺪ ﺑﻦ ﺟﻬﻤﺎﻥ ﺛﻢ ﻗﺎﻝ ﻟﻰ ﺳﻔﻴﻨﺔ ﺃﻣﺴﻚ ﺧﻼﻓﺔ ﺃﺑﻲ ﺑﻜﺮ ﻭﺧﻼﻓﺔ ﻋﻤﺮ ﻭﺧﻼﻓﺔ ﻋﺜﻤﺎﻥ ﺛﻢ ﻗﺎﻝ ﺃﻣﺴﻚ ﺧﻼﻓﺔ ﻋﻠﻲ ﻭﺧﻼﻓﺔ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﻓﻮﺟﺪﻧﺎﻫﺎ ﺛﻼﺛﻴﻦ ﺳﻨﺔ ﻗﺎﻝ ﺳﻌﻴﺪ ﻓﻘﻠﺖ ﻟﻪ ﺇﻥ ﺑﻨﻲ ﺃﻣﻴﺔ ﻳﺰﻋﻤﻮﻥ ﺃﻥ ﺍﻟﺨﻼﻓﺔ ﻓﻴﻬﻢ ﻗﺎﻝ ﻛﺬﺏ ﺑﻨﻮ ﺍﻟﺰﺭﻗﺎﺀ ﻫﻢ ﻣﻠﻮﻙ ﻣﻦ ﺷﺮ ﺍﻟﻤﻠﻮﻙ

"Adapun orang-orang yang dapat menyandang nama khalifah, maka sekelompok dari para imam generasi salaf, antara lain Ahmad bin Hanbal rahimahullah, berpendapat memakruhkan mengucapkan nama khalifah untuk para penguasa setelah Sayidina Hasan bin Ali radhiyallahu 'anhuma". (maksudnya sejak Mu'awiyah bin Abi Sufyan)-, dalam informasi yang diceritakan oleh Imam al-Nahhas dan lainnya.

Mereka berhujjah dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan al-Tirmidzi, dari Safinah bahwa~Rasulullah SAW bersabda: Khilafah setelahku berjalan hanya selama tiga puluh tahun, kemudian setelah itu adalah kerajaan". Sa'id bin Jumhan berkata: "Lalu Safinah berkata kepadaku: "Hitunglah masa khilafahnya Abu Bakar, Umar dan Utsman. Kemudian hitunglah masa khilafahnya Ali dan Hasan bin Ali. Maka akan kita dapati semuanya tiga puluh tahun". Sa'id berkata:"Aku berkata kepada Safinah:"Sesungguhnya orang-orang Bani Umayyah berasumsi bahwa khilafah ada pada mereka". Safinah menjawab: "Mereka telah berbohong. Sebenarnya mereka para raja, dan termasuk seburuk-buruk para raja. (Al-Qaiqasyandi, Ma'atsir al-lnafah fi Ma'alim al-Khilafah, (Beirut, 'Alam al-Kutub,1985), juz 1, hal. 12).

Sedangkan gelar dalam Islam itu tidak bisa semau kita untuk dipergunakan karena memang sudah diberikan petunjuk untuk kita, seperti contoh gelar Nabi adalah Al-Qasim yang mana gelar itu dilarang untuk dipergunakan, dan yang melarang adalah Nabi sendiri seperti dalam riwayat berikut :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ سَمِعْتُ قَتَادَةَ عَنْ سَالِمٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَجُلًا مِنْ الْأَنْصَارِ وُلِدَ لَهُ غُلَامٌ فَأَرَادَ أَنْ يُسَمِّيَهُ مُحَمَّدًا فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَهُ فَقَالَ أَحْسَنَتْ الْأَنْصَارُ سَمُّوا بِاسْمِي وَلَا تَكْتَنُوا بِكُنْيَتِي حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى كِلَاهُمَا عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرٍ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ مَنْصُورٍ ح و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ جَبَلَةَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ يَعْنِي ابْنَ جَعْفَرٍ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ كِلَاهُمَا عَنْ شُعْبَةَ عَنْ حُصَيْنٍ ح و حَدَّثَنِي بِشْرُ بْنُ خَالِدٍ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدٌ يَعْنِي ابْنَ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سُلَيْمَانَ كُلُّهُمْ عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْحَنْظَلِيُّ وَإِسْحَقُ بْنُ مَنْصُورٍ قَالَا أَخْبَرَنَا النَّضْرُ بْنُ شُمَيْلٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ وَمَنْصُورٍ وَسُلَيْمَانَ وَحُصَيْنِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالُوا سَمِعْنَا سَالِمَ بْنَ أَبِي الْجَعْدِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنَحْوِ حَدِيثِ مَنْ ذَكَرْنَا حَدِيثَهُمْ مِنْ قَبْلُ وَفِي حَدِيثِ النَّضْرِ عَنْ شُعْبَةَ قَالَ وَزَادَ فِيهِ حُصَيْنٌ وَسُلَيْمَانُ قَالَ حُصَيْنٌ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا بُعِثْتُ قَاسِمًا أَقْسِمُ بَيْنَكُمْ و قَالَ سُلَيْمَانُ فَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ أَقْسِمُ بَيْنَكُمْ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Muhammad bin Basyar keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far; Telah menceritakan kepada kami Syu'bah; Aku mendengar Qatadah dari Salim dari Jabir bin 'Abdillah bahwa seorang laki-laki dari Anshar istrinya baru melahirkan seorang anak laki-laki, dan dia ingin memberinya nama Muhammad. Maka dia menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan menanyakan hal itu.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: Sungguh baik orang-orang Anshar, namailah dengan namaku tetapi jangan menjulukinya dengan julukanku. Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Muhammad bin Al Mutsanna keduanya dari Muhammad bin Ja'far dari Syu'bah dari Manshur; Demikian juga telah diriwayatkan dari jalur yang lain; Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin 'Amru bin Jabalah; Telah menceritakan kepada kami Muhammad yaitu Ibnu Ja'far; Demikian juga telah diriwayatkan dari jalur yang lain; Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Al Mutsanna; Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu 'Adi keduanya dari Syu'bah dari Hushain; Demikian juga telah diriwayatkan dari jalur yang lain; Dan telah menceritakan kepadaku Bisyr bin Khalid; Telah mengabarkan kepada kami Muhammad yaitu Ibnu Ja'far; Telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Sulaiman seluruhnya dari Salim bin Abu Al Ja'ad dari Jabir bin 'Abdullah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam; Demikian juga telah diriwayatkan dari jalur yang lain; Dan telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim Al Handzali dan Ishaq bin Manshur keduanya berkata; Telah mengabarkan kepada kami An Nadhr bin Syumail; Telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Qatadah dan Manshur, Sulaiman dan Hushain bin 'Abdur Rahman mereka berkata; kami mendengar Salim bin Abu Al Ja'd dari Jabir bin 'Abdullah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam seperti Hadits yang telah kami sebutkan sebelumnya. Dan didalam Hadits An Nadhr dari Syu'bah ia berkata; di dalamnya Hushain dan Sulaiman menambahkan, Hushain berkata;

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya aku diutus sebagai Qasim, yang membagi di antara kalian. Sedangkan Sulaiman berkata; 'Sesungguhnya aku Qasim yang membagi di antara kalian.'(HR.muslim No : 3979)

حَدَّثَنِي أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ قَالَ أَبُو كُرَيْبٍ أَخْبَرَنَا و قَالَ ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا وَاللَّفْظُ لَهُ قَالَا حَدَّثَنَا مَرْوَانُ يَعْنِيَانِ الْفَزَارِيَّ عَنْ حُمَيْدٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ نَادَى رَجُلٌ رَجُلًا بِالْبَقِيعِ يَا أَبَا الْقَاسِمِ فَالْتَفَتَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَمْ أَعْنِكَ إِنَّمَا دَعَوْتُ فُلَانًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسَمَّوْا بِاسْمِي وَلَا تَكَنَّوْا بِكُنْيَتِي

Telah menceritakan kepadaku Abu Kuraib Muhammad bin Al A'llaa' dan Ibnu Abu 'Umar Abu Kuraib berkata; Telah mengabarkan kepada kami, dan berkata Ibnu Abu 'Umar; Telah menceritakan kepada kami dan lafazh ini miliknya ia berkata; Telah menceritakan kepada kami Marwan yaitu Al Fazari dari Humaid dari Anas dia berkata; "Ada seseorang memanggil-manggil (orang lain) di Baqi', katanya; 'Ya Abal Qasim! ' Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menoleh kepadanya. Kata orang itu; 'Ya Rasulullah! Bukan Anda yang ku maksud. Sesungguhnya aku memanggil si Fulan.' Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Silahkan kalian memberi nama dengan namaku, tetapi jangan kalian memberi gelar dengan gelaranku! '(HR.muslim No : 3974).

Hadist ini tidak berbicara tentang khalifah namun membuktikan bahwa gelar itu tidak boleh se-enaknya untuk kita pergunakan, begitu juga dengan gelar khalifah yang sudah di finiskan oleh Rasulullah perhatikan perkataan Nabi yang ini : ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺨﻼﻓﺔ ﻓﻲ ﺃﻣﺘﻲ ﺛﻼﺛﻮﻥ ﺳﻨﺔ ﺛﻢ ﻣﻠﻚ ﺑﻌﺪ ﺫﻟﻚ Rasulullah SAW bersabda : Khilafah setelahku berjalan hanya selama tiga puluh tahun, kemudian setelah itu adalah kerajaan".  Adapun HTI dan yang sejalan, lebih-lebih ISIS sudah tidak di ragukan lagi mereka adalah menyelisihi hadist, melanggar perintah Nabi Muhammad S.A.W.




© Post Original & Official®
 █║▌│█│║▌║││█║▌║▌║
Verified Official by Soffah.net

Post a Comment Blogger

Apa opini dari anda?