Tolak Kampanye Anti Diskriminasi - Soffah.Net

1

Mereka berseru “Ayo majukan Indonesia dengan Anti Diskriminasi Agama” tentu saja cara mereka sangat halus dengan menyandarkan pada kata “Ayo majukan Indonesia” sehingga orang-orang awam bahkan anak kecil-pun akan terperosok kedalam tipu-daya itu, Pada dasarnya seruan di balik Anti Diskriminasi terhadap Agama hanyalah sebuah misi besar mereka terhadap pelepasan citra Agama Islam ini dari tubuh bangsa Indonesia.

Dengan berbagai orasi yang di gelar dan di upayakan kesuksesannya mereka sanggup mendanai siapapun yang mau berteriak “Buang jauh-jauh diskriminasi Agama” tentu saja hal ini tipudaya yang nyata, pelajar-pelajar di perkampusan ikut menyuarakan tak-lain hanyalah mereka menelan Logika yang salah, karena sesungguhnya daya pikir manusia itu adalah di ciptakan bodoh. Namun apabila dibalik kampanye itu mereka menerima sebuah dana, maka mereka dengan tidak menyadari terpleset kedalam penistaan Agama, hal itu sama persis dengan menjual agama-nya.

Saudaraku se-Iman... Janganlah engkau mengikuti langkah-langkahnya sebab semua itu adalah tipudaya darinya, kami persilahkan anda berpikir sendiri dengan naluri anda, di Indonesia  mereka mengkampanyekan “Tolak Diskriminasi Agama” secara tidak langsung anda di suruh jangan sebut-sebut Islam atau jangan bawa Agama anda ketika be-rsosialisasi, cintailah mereka yang tidak seagama dengan anda... Seperti yahudi dan Nasara,

Baik kita diamkan dulu seruan mereka. Lalu bagaimana dengan saudara kita yang berada di palestina?  Saudara kita Islam di bantai dan di aniaya oleh mereka orang-orang kafir, Lalu mengapa  mereka yang berkampanye “Anti Diskriminasi agama” tidak berkampanye juga terhadap bangsa yahudi dan nasara? Sungguh misi mereka sama, adalah menginginkan kehancuran Agama Islam ini. Hanya saja yang di Indonesia ini bekerja dengan teori yang halus. Mengapa kok dengan cara yang halus? Sudah tentu karena rakyat Indonesia masih mayoritas Islam, tetapi mereka tidak berputus asa, mereka membuat strategi dengan program “Anti Diskriminasi” yang di sandarkan kepada kata “Ayo majukan Indonesia dengan Anti Diskriminasi”.

Kita sebagai ummat Islam wajib menolak kampanye seperti itu, karena hal itu bertentangan dengan Aqidah Islam ini, adapun apabila tetap menyuarakan kampanye mereka ( Anti Diskriminasi ) maka kita terkena ancama Allah Subhanahu Wata’ala, dalam Firman Allah sudah di tegaskan dalam hal ini dengan Ayat :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kalian mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.“(QS. Al-Mâidah 5 : 51)

Dengan menyuarakan Anti Diskriminasi berarti kita telah menjadikan mereka sebagai pimpinan kita, karena mereka yang mengajak kita dan yang memandu dalam strategi itu, sungguh kita akan terlepas dari Agama islam ini dengan mengikuti mereka sebagaimana catatan yang sudah kami tulis pada Hukum Membantu Non-Muslim, Lalu kita harus bagaimana? Minimal kita harus diam tidak mengikuti mereka, lebih-lebih mendukung... Na’udzubillah.  Alangkah baiknya apabila mengingat pesan dari Rasulullaah SAW:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam.” (HR. al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ahmad & Malik) Al-Hafizh al-Nawawi menjelaskan hadits di atas seperti berikut :

فمعناه أنه إذا أراد أن يتكلم فإن كان ما يتكلم به خيرا محققا يثاب عليه، واجبا أو مندوبا فليتكلم . وإن لم يظهر له أنه خير يثاب عليه، فليمسك عن الكلام سواء ظهر له أنه حرام أو مكروه أو مباح مستوي الطرفين . فعلى هذا يكون الكلام المباح مأمورا بتركه مندوبا إلى الإمساك عنه مخافة من انجراره إلى المحرم أو المكروه . وهذا يقع في العادة كثيرا أو غالبا

“Maknanya adalah jika seseorang ingin mengatakan sesuatu, jika didalamnya mengandung kebaikan dan ganjaran pahala, sama saja apakah wajib atau sunnah untuk diungkapkan maka ungkapkanlah. Jika belum jelas kebaikan perkataan tersebut diganjar dengan pahala maka ia harus menahan diri darinya, sama saja apakah jelas hukumnya haram, makruh atau mubah. Dan dalam hal ini perkataan yang mubah dianjurkan untuk ditinggalkan, disunnahkan untuk menahan diri darinya, karena khawatir perkataan ini berubah menjadi perkataan yang diharamkan atau dimakruhkan. Dan kasus kesalahan seperti ini banyak terjadi.” Imam Ibn Daqiq al-‘Ied (w. 702 H) menjelaskan hadits ini:

قوله: “من كان يؤمن بالله واليوم الآخر” يعني من كان يؤمن الإيمان الكامل المنجي من عذاب الله الموصل إلى رضوان الله “فليقل خيراً أو ليصمت” لأنّ من آمن بالله حق إيمانه خاف وعيده ورجا ثوابه واجتهد في فعل ما أمر به وترك ما نهي عنه وأهم ما عليه من ذلك: ضبط جوارحه التي هي رعاياه وهو مسئول عنها كما قال تعالى: {إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً}. وقال تعالى: {مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ}.

“Sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir” yakni barangsiapa yang beriman dengan keimanan yang sempurna terlindung dari ‘adzab Allah dan menyampaikan kepada keridloan-Nya “maka berkatalah yang baik atau diam” karena barangsiapa yang beriman kepada Allah, maka di antara tuntutan keimanannya adalah merasa takut terhadap peringatan-Nya, mengharapkan pahala dari-Nya, dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan segala hal yang diperintahkan Allah kepadanya dan meninggalkan segala hal yang dilarang-Nya, dan diantara hal yang paling penting: menjaga apa yang ada pada dirinya yang mesti dijaga (dari kemaksiatan) dan ia bertanggungjawab terhadap itu semua sebagaimana firman Allah SWT: “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawaban.” Dan firman Allah SWT: “Tiada suatu ucapan-pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” Lalu Imam Ibn Daqiq al-‘Ied pun menegaskan seperti ini :

وآفات اللسان كثيرة، ولذلك قال النبي صلى الله عليه وسلم: “هل يكب الناس في النار على مناخرهم إلا حصائد ألسنتهم”. وقال: “كل كلام ابن آدم عليه إلا ذكر الله تعالى وأمر بمعروف ونهي عن منكر”. فمن علم ذلك وآمن به حق إيمانه اتقى الله في لسانه فلا يتكلم إلا بخير أو يسكت.

“Dan bahaya lisan itu banyak sekali, oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah manusia dijatuhkan ke dalam neraka di atas hidung mereka melainkan akibat lisan-lisan mereka” dan sabdanya: “Setiap perkataan anak cucu Adam itu membahayakannya (tidak berguna baginya) kecuali berdzikir kepada Allah dan perkataan yang memerintahkan kepada kebaikan dan melarang kemungkaran” Maka siapa saja yang mengetahui hal ini dan beriman terhadapnya maka diantara tuntutan keimanannya bertakwa kepada Allah dalam menjaga lisannya, dan tidaklah ia berkata-kata kecuali perkataan baik atau diam.” (Lihat: Syarh al-Arba’iin al-Nawawiyyah fii al-Ahaadiits al-Shahiihah al-Nawawiyyah, Imam Ibn Daqiiq al-‘Ied.)

Apakah kita tidak takut kepada ancaman Allah? Dengan siksa’annya sangat mengerikan? Maka jauhi orang-orang seperti mereka yang akan menjerumuskan anda, Pegang erat-erat Agama Islam ini janganlah mau terbujuk oleh musuh-musuh Allah, Naudzubillah Mindzalik.




© Post Original & Official®
 █║▌│█│║▌║││█║▌║▌║
Verified Official by Soffah.net

Post a comment Blogger

Apa opini dari anda?