Meluruskan Catatan Firanda Tentang Tahlilan Bag2 - Soffah.Net

0

Dalam catatn ini saya melanjutkan artikel sebelim nya yang berjudul Meluruskan Catatan Firanda Tentang Tahlilan, bila anda belum membaca silahkan bisa di lihat di sini. Topik yang akan saya angkat disini adalah masalah kritikan Ustad Firanda terhadap pendalilan Ustad Idrus Ramli, yaitu pendalilan kedua yang di kritik, adalah riwayat dari Sayyidah Aisyah Sebagai berikut :

عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ أَنَّهَا كَانَتْ إِذَا مَاتَ الْمَيِّتُ مِنْ أَهْلِهَا فَاجْتَمَعَ لِذَلِكَ النِّسَاءُ ثُمَّ تَفَرَّقْنَ إِلاَّ أَهْلَهَا وَخَاصَّتَهَا أَمَرَتْ بِبُرْمَةٍ مِنْ تَلْبِيْنَةٍ فَطُبِخَتْ ثُمَّ صُنِعَ ثَرِيْدٌ فَصُبَّتْ التَّلْبِيْنَةُ عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَتْ كُلْنَ مِنْهَا فَإِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ اَلتَّلْبِيْنَةُ مُجِمَّةٌ لِفُؤَادِ الْمَرِيْضِ تُذْهِبُ بَعْضَ الْحُزْنِ. رواه مسلم

"Dari Urwah, dari Aisyah, istri Nabi , bahwa apabila seseorang dari keluarga Aisyah meninggal, lalu orang-orang perempuan berkumpul untuk berta’ziyah, kemudian mereka berpisah kecuali keluarga dan orang-orang dekatnya, maka Aisyah menyuruh dibuatkan talbinah (sop atau kuah dari tepung dicampur madu) seperiuk kecil, lalu dimasak. Kemudian dibuatkan bubur. Lalu sop tersebut dituangkan ke bubur itu. Kemudian Aisyah berkata: 'Makanlah kalian, karena aku mendengar Rasulullah bersabda: Talbinah dapat menenangkan hati orang yang sakit dan menghilangkan sebagian kesusahan.'" (HR. Muslim [2216])

hadits di atas mengantarkan pada kesimpulan bahwa pemberian makanan oleh keluarga duka cita kepada orang-orang yang berta'ziyah telah berlangsung sejak generasi sahabat atas perintah Khalifah Umar sebelum wafat, dan dilakukan oleh Sayyidah Aisyah. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi kenduri kematian bukanlah perbuatan yang dilarang dalam agama.

Kemudian disini saya juga akan mengutip kritikan-kritikan Ustadz Firanda terhadap Ustadz Idreus Ramli, yang berbunyi sebagai berikut :

KRITIKAN

Dalil dari hadits Aisyah radhiallahu 'anhaa di atas sangat tidak diragukan akan keabsahan dan keshahihannya. Karenanya pembicaraan hanya akan tertuju pada sisi pendalilan dari hadits tersebut untuk melegalkan acara ritual tahlilan. Jika kita membaca kembali teks hadits di atas maka bisa kita simpulkan:

Pertama : Sangat jelas tidak ada penyebutan acara ritual tahlilan, hanya penyebutan mengenai makanan.

Saya jawab dulu, biar permasalahn nya mudah di fahami, masih tetap dengan metode seperti sebelum nya, dengan menjawab perba’id dari setiap kritikan.

Pertama  : Sangat jelas tidak ada penyebutan acara tahlil. Ya sudah jelas tidak menyebut kata tahlil. Mengapa? Karena memang kata tahlil itu adalah sebuah penggabungan antara beberapa baca’an yang ada dalah al-qur’an, dan lagi penggabungan itu adalah teori dari dzikrul hikmah yang akan memberikan manfa’at untuk orang yang eninggal, hal ini sama persis dengan teori penggabungan atau pengumpulan hadist yang di maktubkan dalam sebuah kitab, supaya memberikan manfa’at dan memudahkan kita untuk mempelajari hadist, dalam hal ini pun (pengumpulan hadist) juga tidak di contohkan oleh Rasulullah, tetapi pembaruan seperti ini memanglah harus di lakukan.

Kritikan selanjutnya : Kedua : Dalam hadits di atas disebutkan bahwa yang menyediakan makanan adalah Aisyah, dan yang meninggal adalah keluarga Aisyah, serta yang diberi makan adalah keluarga Aisyah dan orang-orang khususnya. Sangat jelas dalam riwayat di atas:

أَنَّهَا كَانَتْ إِذَا مَاتَ الْمَيِّتُ مِنْ أَهْلِهَا فَاجْتَمَعَ لِذَلِكَ النِّسَاءُ ثُمَّ تَفَرَّقْنَ إِلاَّ أَهْلَهَا وَخَاصَّتَهَا أَمَرَتْ بِبُرْمَةٍ مِنْ تَلْبِيْنَةٍ

"Jika ada yang meninggal dari keluarga Aisyah, maka para wanita pun berkumpul untuk itu, kemudian mereka bubar kecuali keluarga Aisyah dan orang-orang khususnya, maka Aisyahpun memerintahkan untuk membuat makanan talbinah seperiuk kecil."

Bahwa pembicaraan dalam hadits ini, bukanlah membuat makanan untuk seluruh orang-orang yang hadir, akan tetapi untuk orang-orang khusus beliau dari kalangan wanita saja.

Selain itu pemberian makanan talbinah ini adalah setelah para wanita bubaran, sehingga yang tersisa hanyalah keluarga Aisyah yang bersedih dan orang-orang khusus yang dekat dengan Aisyah.

Jawaban saya : dilihat dari kritikan yang kedua ini nampaknya sang ustadz Firanda al-wahhabi lupa dengan riwayat-riwayat yang lain, 1-Mengapa membuat makanan atau talbinah ini hanya seperiuk kecil? 2-Mengapa yang diberi makan adalah keluarga Aisyah dan orang-orang yang dekat? 3-Dan mengapa tidak membuat makanan untuk seluruh orang-orang yang hadir?. Jawaban dari tiga poin itu ialah dengan satu hadist ini :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ لِعُرْوَةَ ابْنَ أُخْتِي إِنْ كُنَّا لَنَنْظُرُ إِلَى الْهِلَالِ ثُمَّ الْهِلَالِ ثَلَاثَةَ أَهِلَّةٍ فِي شَهْرَيْنِ وَمَا أُوقِدَتْ فِي أَبْيَاتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَارٌ فَقُلْتُ يَا خَالَةُ مَا كَانَ يُعِيشُكُمْ قَالَتْ الْأَسْوَدَانِ التَّمْرُ وَالْمَاءُ إِلَّا أَنَّهُ قَدْ كَانَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جِيرَانٌ مِنْ الْأَنْصَارِ كَانَتْ لَهُمْ مَنَائِحُ وَكَانُوا يَمْنَحُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَلْبَانِهِمْ فَيَسْقِينَا

Aisyah berkata kepada ‘Urwah, “Wahai putra saudariku, sungguh kita dahulu melihat hilal kemudian kita melihat hilal (berikutnya) hingga tiga hilal selama dua bulan, akan tetapi sama sekali tidak dinyalakan api di rumah-rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Maka aku (Urwah) berkata, “Wahai bibiku, apakah makanan kalian?”, Aisyah berkata, “Kurma dan air”, hanya saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki tetangga dari kaum Anshoor, mereka memiliki onta-onta (atau kambing-kambing) betina yang mereka pinjamkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diperah susunya, maka Rasulullahpun memberi susu kepada kami dari onta-onta tersebut” (HR Al-Bukhari no 2567 dan Muslim no 2972)

Apakah Hadist di atas itu menunjukkah kekaya’an keluarga Aisyah? Apakah Keluarga Rasulullah berkecukupan seperti hal nya sang ustadz Firanda yang setiap belanja bahan pokok makanan itu mencukupi untuk sebulan? Atau setiap membeli beras itu sekuintal sehingga ustadz Firanda tidak perna kepikiran masalah makan?

Subhanallah... anda lalai ustadz... Banyak sebuah riwayat bahkan Rasulullah pernah tidak makan selama tiga hari ustadz... apakah anda juga mau mendustakan itu? Sungguh saya ini adalah orang yang miskin, Namun sa’at saya membaca kembali riwayat itu, saya tidak sadar meneteskan air mata

Saudaraku sekalian yang di rahmati Allah... Ingatlah... kelarga Aisyah memasak talbinah seperiuk kecil itu karna tidak ada lagi yang mau di masak, dalam kejadian yang besar itu saat Aisyah di tinggal (meninggal nya keluarga Aisyah) tentulah bila Aisyah berkecukupan tidak akan memasak hanya seperiuk kecil, bukankah Aisyah beserta semua keluarga Rasulullah sangat senang bersedekah?

Lalu mengapa pemberian makanan talbinah itu di berikan setelah para wanita bubaran? Jawaban ini sangat terkait dengan yang di atas, Lagipula keluarga Rasulullah sangat menjaga perasa’an orang muslim lain nya, Tidak mungkin menyuguhkan talbina yang hanya seperiuk kecil disuguhkan di depan para wanita banyak, kalau yang mendapat bagian tidak masalah, lalu bagaimana yang tidak kebagian? Sebab itulah di berikan setelah para wanita bubar dan tinggal kerabat dekat nya saja.

Kemudian kritikan selanjut nya : Ketiga : Dalam hadits di atas juga, tujuan pembuatan makanan talbinah tersebut bukanlah dalam rangka bersedekah kepada para penta'ziah, (karena jelas para penta'ziah wanita telah bubaran), akan tetapi dalam rangka menghilangkan kesedihan.

Karenanya seluruh para ulama yang menjelaskan hadits di atas, menyebutkan tentang keutamaan talbinah yang disebutkan oleh Nabi -shalallahu 'alaihi wa sallam- untuk menghilangkan kesedihan dan kesusahan. Karenanya talbinah ini tidak hanya diberikan kepada keluarga yang sedang duka, akan tetapi diberikan juga kepada orang yang sakit.

Jawaban saya : Saya rasa jawaban saya di atas cukup untuk menjelaskan mengapa di berikan setelah para wanita bubaran, mengenai para Ulama’ menyebutkan tentang keutamaan talbinah, yaitu memang benar talbinah bisa membuat tenang hati yang lagi duka, Namun bukan berarti penjelasan para Ulama’ itu melarang memasak-masak untuk acara kematian dengan selain Talbinah, Para Ulama hanya mengungkapkan manfa’at dari talbina itu sendiri.

Kritikan selanjutnya : Keempat : Yang dihidangkan oleh Aisyah adalah hanya talbinah saja bukan sembarang makanan, karena ada keutamaan talbinah yang bisa menghilangkan kesedihan. Hal ini semakin mendukung bahwa tujuan Aisyah bukanlah untuk murni memberi makanan, atau untuk mengenyangkan perut, atau untuk bersedekah dengan makanan, akan tetapi tujuannya adalah untuk menghilangkan kesedihan. Karena kalau dalam rangka mengenyangkan para penta'ziah dan bersedakah, maka lebih utama untuk menghidangkan makanan yang berbobot seperti kambing guling dan yang lainnya, bukan hanya sekedar semangkuk sop saja yang tidak mengenyangkan.

Jawaban saya : Kata ustadz Firanda al-wahhabi hadist di atas itu bukan untuk sedekah, Mengapa? Jawaban nya karna dalam hadist tidak menyebutkan kata sedekah..! saya jadi teringat hadist yang di riwayatkan Imam Bukhari dalam hadist nya yang nomer 44, berbunyi seperti ini :

Telah menceritakan kepada kami Isma’il Telah menceritakan kepadaku Malik bin Anas dari pamannya – Abu Suhail bin Malik – dari bapaknya, bahwa dia mendengar Thalhah bin ‘Ubaidullah berkata: Telah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seorang dari penduduk Najed dalam keadaan kepalanya penuh debu dengan suaranya yang keras terdengar, namun tidak dapat dimengerti apa maksud yang diucapkannya, hingga mendekat (kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) kemudian dia bertanya tentang Islam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: Shalat lima kali dalam sehari semalam. Kata orang itu: apakah ada lagi selainnya buatku. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: Tidak ada kecuali yang thathawu’ (sunnat) . Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: Dan puasa Ramadlan. Orang itu bertanya lagi: Apakah ada lagi selainnya buatku. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: Tidak ada kecuali yang thathawu’ (sunnat) . Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut: Zakat: Kata orang itu: apakah ada lagi selainnya buatku. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: Tidak ada kecuali yang thathawu’ (sunnat) . Thalhah bin ‘Ubaidullah berkata: Lalu orang itu pergi sambil berkata: Demi Allah, aku tidak akan menambah atau menguranginya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Dia akan beruntung jika jujur menepatinya.

Maka pantaslah sang Ustadz Firanda al-wahhabi ini sependapat dengan penduduk Najed dalam keadaan kepalanya penuh debu itu, kedangkalan dan kebekuhan dalam berpikir nampaknya persis mereka berdua.. Kata sang ustadz “Karena kalau dalam rangka mengenyangkan para penta'ziah dan bersedakah, maka lebih utama untuk menghidangkan makanan yang berbobot seperti kambing guling dan yang lainnya”  Kambing Guling atau rendang padang, atau Nasi samin sekalian, jangan lupa sekalian ketika sayyidah Aisyah kalau mau belanja pake kartu kredit saja, biar tinggal gesek... Subhanallah...

Allahu A’lam





© Post Original & Official®
 █║▌│█│║▌║││█║▌║▌║
Verified Official by Soffah.net

Post a Comment Blogger

Apa opini dari anda?